TERASKATA

Membangun Indonesia

Pergantian Ketua DPC PDIP Brebes: Regenerasi atau Penjegalan Politik Struktural

admin | admin admin
Ilustrasi

TERASKATA.COM, Brebes – Fenomena pergantian Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes yang telah dijabat selama kurang lebih 25 tahun oleh Indra Kusuma patut dibaca secara lebih jernih dan objektif.

Tidak sekadar sebagai proses organisasi rutin, tetapi sebagai dinamika politik internal yang mencerminkan relasi kuasa antara pusat dan daerah dalam tubuh partai politik modern.

Secara normatif, pergantian kepemimpinan merupakan keniscayaan dalam organisasi politik. Partai membutuhkan regenerasi, penyegaran ide, dan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Namun, ketika pergantian tersebut terjadi pada figur yang memiliki rekam jejak panjang, serta memiliki loyalitas ideologis, dan basis dukungan kuat di akar rumput, maka publik berhak bertanya apakah ini murni regenerasi, atau ada kepentingan politik lain yang bekerja di balik layar?

Hal itu diungkapkan oleh Azra Fadila Prabowo menyikapi pergantian ketua DPC PDIP Kabupaten Brebes. Dimana Petahana yaitu Indra Kusuma secara mengejutkan lengeser, setelah diadakannya Konferensi Cabang (Konfercab) DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes yang digelar di Hotel Patrajasa, Semarang beberapa waktu lalu ucapnya , kepada awak media, Jumat 02/01/2026.

Lebih lanjut Azra Fadila Prabowo menyebutkan, pucuk pimpinan diibaratkan seperti nahkoda dan awak kapal.

Dalam analogi sederhana, partai politik ibarat sebuah kapal besar. DPP dan DPD adalah nahkoda utama yang menentukan arah pelayaran, sementara DPC adalah awak kapal yang sehari-hari bekerja memastikan kapal tetap berjalan di tengah gelombang.

”Ketika awak kapal yang paling berpengalaman justru diturunkan bukan karena kelalaian, melainkan karena dianggap ‘terlalu kuat’ atau ‘terlalu mandiri’, maka persoalannya bukan lagi soal kinerja, melainkan soal kontrol dan loyalitas struktural,” tuturnya.

Indra Kusuma, dengan masa jabatan seperempat abad, bukan hanya pemimpin administratif, tetapi telah menjelma menjadi simbol politik lokal. Dalam perspektif elite partai tingkat atas, figur seperti ini sering kali dipandang ambivalen: dibutuhkan untuk menjaga basis massa, namun sekaligus dianggap berpotensi menjadi pusat kekuatan alternatif.

Penjegalan Politik: Ketika Aturan Menjadi Instrumen

Dugaan adanya (penjegal-an) oleh elite DPD dan DPP PDI Perjuang tidak bisa dilepaskan dari fenomena umum dalam politik partai, yaitu sentralisasi kekuasaan,_ucapnya.

Dalam praktiknya, aturan organisasi kerap menjadi alat legitimasi untuk keputusan politik yang sudah ditentukan sebelumnya.

Analogi lainnya, ini seperti pertandingan sepak bola di mana wasit memegang peluit. Aturan memang berlaku untuk semua, tetapi kapan peluit ditiup dan kepada siapa kartu diberikan, sangat bergantung pada otoritas wasit. Dalam konteks ini, elite partai di tingkat atas memegang “peluit politik” yang menentukan siapa tetap bermain dan siapa harus keluar lapangan.

Stabilitas vs Elektabilitas:

Dari sudut pandang kami selaku masyarakat awam, keputusan mengganti figur lama yang stabil sering kali berisiko secara elektoral.

Indra Kusuma bukan sekadar jabatan, melainkan jaringan sosial, memori kolektif, dan kepercayaan konstituen. Mengabaikan faktor ini sama seperti mengganti fondasi rumah lama tanpa menghitung apakah bangunan baru benar-benar lebih kuat dan kokoh.

Azra Fadila Prabowo menambahkan, jika pergantian ini tidak diikuti konsolidasi yang matang, tidak menutup kemungkinan PDIP di tingkat akar rumput berpotensi mengalami fragmentasi dukungan, apatisme kader, bahkan silent resistance—perlawanan diam-diam yang tidak terlihat tetapi berdampak signifikan saat momentum elektoral tiba.

Catatan Kritis lainnya:

Sebagai penutup, pergantian Ketua DPC PDIP Brebes ini seharusnya menjadi refleksi serius bagi partai, apakah partai ingin tumbuh sebagai organisasi kader yang demokratis, atau sekadar mesin politik yang dikendalikan secara sentralistik?

”Dalam politik, menyingkirkan figur berpengalaman tanpa narasi yang adil dan transparan ibarat menebang pohon besar karena bayangannya dianggap terlalu panjang. Padahal, pohon itulah yang selama ini memberi teduh dan menjaga tanah agar tidak longsor,” pungkasnya. (Putra/teraskata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini