TERASKATA

Membangun Indonesia

Brebes 348 Tahun: Momentum Reflektif untuk Membaca Perjalanan Sejarah dan Dinamika Politik Daerah

TERASKATA.COM, BREBES – Peringatan Hari Jadi ke-348 Kabupaten Brebes bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk membaca perjalanan sejarah dan dinamika politik daerah.

Hal itu disampaikan oleh Azra Fadila Prabowo S.I.P. Konsultan Politik PSPK (Pusat Studi Politik & Kebijakan Publik) – Semarang, Jawa Tengah. Kepada awak media Teraskata.com pada , Senin 11/01/2026 pagi.

Azra Fadila Prabowo, merupakan putra asli kelahiran Kelurahan Pasarbatang , Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Beliau juga pernah menulis Buku yang berjudul
MELINTASI GARIS WAKTU “Strategi Komunikasi Politik Antar Generasi yang Terbit pada tahun 2024.

Azra Fadila Prabowo menyebutkan, dalam perspektif politik lokal, usia 348 tahun ibarat sebuah kapal tua yang telah berlayar melewati badai zaman tetap mengapung, namun memerlukan perbaikan arah agar tidak sekadar bertahan, melainkan bisa melaju kencang.

Brebes memiliki sejarah panjang sebagai wilayah agraris, lintasan perdagangan, sekaligus ruang pertemuan berbagai kepentingan politik sejak masa kerajaan, kolonial, hingga era demokrasi elektoral saat ini.

Sejarah Politik Brebes: Dari Patronase ke Elektoral

Azra Fadila Prabowo mengatakan, secara historis, politik di Brebes berkembang dalam pola patron-klien. Pada masa awal pemerintahan lokal, kekuasaan berpusat pada figur kuat. Baik bupati, tokoh adat, maupun elite ekonomi. Dalam analogi sederhana, politik kala itu seperti sawah tadah hujan: subur jika pemimpinnya kuat, tetapi rentan ketika figur sentral melemah.

Memasuki era reformasi, Brebes bertransformasi ke sistem politik elektoral yang lebih terbuka. Partai politik menjadi kendaraan utama, namun praktik politik personalistik tidak sepenuhnya hilang. Figur masih menjadi magnet, sementara institusi sering kali tertinggal di belakangnya.

Perkembangan Politik Lokal: Antara Institusi dan Figur

Dalam dua dekade terakhir, dinamika politik Brebes menunjukkan paradoks. Di satu sisi, prosedur demokrasi berjalan. Pemilu, pilkada, dan pergantian kepemimpinan. Di sisi lain, penguatan kelembagaan partai dan birokrasi belum sepenuhnya matang,”ungkap Azra Fadila Prabowo.

Menurutnya, analogi yang tepat adalah bangunan megah dengan pondasi yang belum sepenuhnya kokoh. Tampak kuat dari luar, tetapi mudah retak ketika diguncang konflik internal atau keputusan elite yang tidak sinkron dengan aspirasi lokal.

Fenomena mutakhir, mulai dari gesekan elite partai, pengunduran diri kepala desa akibat krisis kepercayaan publik, hingga kekecewaan kader akar rumput, menjadi indikasi bahwa demokrasi lokal masih berjuang membangun kepercayaan sebagai modal utama,”Tandasnya.

Politik Brebes Hari Ini: Gejala dan Tantangan

Azra Fadila Prabowo menambahkan, saat ini, politik Brebes menghadapi tantangan klasik namun krusial: jarak antara pengambil keputusan dan masyarakat. Ketika kebijakan dan keputusan politik lebih banyak ditentukan dari atas, sementara aspirasi bawah tidak terakomodasi, maka lahirlah apatisme dan resistensi diam-diam.

Dalam analogi sederhana, politik lokal Brebes hari ini seperti mesin tua yang masih menyala, tetapi suaranya mulai tersendat. Ia tetap bergerak, namun kehilangan pelumas berupa komunikasi, kepercayaan, dan konsistensi kebijakan.

Kader partai yang mengembalikan KTA, masyarakat yang berani berdemo, hingga kepala desa yang memilih mundur, adalah ekspresi dari satu hal yang sama: kepercayaan publik yang tergerus.

Refleksi Ulang Tahun ke-348: Apa yang Perlu Dibenahi

Momentum ulang tahun ke-348 , menurut Azra Fadila Prabowo, seharusnya menjadi titik balik. Politik Brebes perlu beranjak dari sekadar politik penguasaan menuju politik pengelolaan kepercayaan. Loyalitas tidak bisa lagi dipaksakan secara struktural; ia harus dirawat melalui keterbukaan, dialog, dan keberpihakan nyata pada kepentingan rakyat.

Brebes tidak kekurangan tokoh, tetapi membutuhkan sistem yang lebih adil dan mendengar. Tidak kekurangan partai, tetapi memerlukan partai yang membumi,”ucapnya.

Usia 348 tahun Kabupaten Brebes mengajarkan satu pelajaran penting: wilayah ini bertahan bukan karena kekuatan elite semata, melainkan karena daya tahan masyarakatnya. Namun, daya tahan itu tidak boleh terus-menerus diuji.

Jika politik lokal gagal membaca tanda-tanda zaman, krisis kepercayaan, kejenuhan publik, dan tuntutan transparansi. Maka Brebes berisiko berjalan di tempat. Sebaliknya, jika momentum ini dimanfaatkan untuk memperbaiki arah, Brebes dapat memasuki babak baru politik daerah yang lebih dewasa.

Dalam bahasa sederhana: Brebes telah cukup tua untuk belajar dari masa lalu, dan cukup matang untuk berubah hari ini,”Pungkasnya.

Haryoto/Teraskata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini