Berebut Udara Bersih di Setu Wetan: Kisah Kadina, Euis, dan Bau Kandang Kambing
CIREBON – Sebuah kandang kambing di Blok Grewal RT 07 RW 03, Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, kini menjadi sumbu konflik sosial yang pelik. Di satu sisi, kandang tersebut adalah urat nadi perekonomian sebuah keluarga. Di sisi lain, keberadaannya dituding menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga sekitar.
Sisi Kadina: Berawal dari Kesembuhan Sang Anak
Pemilik kandang, Kadina (53), menceritakan bahwa usaha peternakan ini memiliki sejarah emosional yang mendalam. Semua bermula pada tahun 2004, saat putri tercintanya jatuh sakit parah dan terus mengigau meminta dibelikan kambing.
Keterbatasan ekonomi sempat membuat Kadina tak berdaya. Namun, demi kesembuhan buah hatinya, ia nekat meminjam uang untuk membeli dua ekor anak kambing.
“Alhamdulillah anak saya langsung senang dan sehat kembali setelah melihat kambing itu,” kenang Kadina saat ditemui di kediamannya, Selasa malam (2/6/2026).
Waktu berlalu, dua ekor kambing tersebut berkembang biak. Hingga tahun 2026, Kadina kini memiliki 15 ekor kambing yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya.
Kadina mengaku sadar bahwa bau kotoran dari kandangnya di tengah permukiman padat telah mengganggu kenyamanan tetangga. Melalui mediasi yang difasilitasi Pemerintah Desa Setu Wetan, ia sepakat untuk mengubah pola kebersihan.
“Dulu kandang dibersihkan tiga sampai empat hari sekali. Setelah musyawarah dengan warga, sekarang saya kuras setiap hari karena saya tidak ingin ada benturan dengan warga,” jelasnya.
Kadina menegaskan dirinya punya keinginan untuk merelokasi kandang tersebut ke tempat yang jauh dari permukiman. Namun, rencana itu terbentur dinding tebal bernama biaya. “Harga tanah mahal, pendapatan saya hanya cukup untuk makan sehari-hari,” keluhnya.
Sisi Euis: Perjuangan Napas di Tengah Polusi Bau
Di sudut lain, dampak keberadaan kandang ini dirasakan secara nyata oleh Euis Junengsih, warga yang rumahnya tepat bersebelahan dengan kandang Kadina. Bagi Euis, masalah ini bukan lagi sekadar urusan bau menyengat, melainkan taruhan nyawa.
Euis merupakan penyintas penyakit pasca-TB Paru Hemoptisis (batuk darah) yang diidapnya sejak awal 2024. Dalam dua tahun terakhir, kondisi pernapasannya terus memburuk akibat paparan bau kotoran hewan, terutama saat musim hujan tiba.
“Dari tahun 2024 sampai 2026 ini, saya sudah tiga kali menjalani rawat inap di RS Permata karena sesak napas,” ungkap Euis.
Kecurigaan Euis diperkuat oleh pernyataan tim medis yang merawatnya.
“Dokter bertanya apakah ada pencemaran di sekitar rumah. Saya jawab ada kandang kambing persis di sebelah rumah. Dokter bilang, bisa jadi sumber (pemburukan) penyakitnya dari situ,” tambahnya.
Euis mengaku sudah menempuh berbagai jalur formal untuk mencari keadilan. Ia telah melayangkan aduan mulai dari tingkat desa, kecamatan, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon. Namun, hingga kini tindakan nyata di lapangan belum juga terealisasi.
“Saya sedih, curahan hati saya sejauh ini hanya dicatat, tapi belum ada tindakan nyata. Harapan saya sederhana, ada penertiban supaya lingkungan kembali bersih. Cukup saya saja yang mengalami ini, jangan ada warga lain yang ikut sakit,” pungkas Euis.
Hingga berita ini diturunkan, warga dan pemilik kandang masih menanti langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menjembatani solusi jangka panjang, seperti penyediaan lahan relokasi yang layak bagi peternak kecil di tengah kawasan padat penduduk.
Penulis : Mu’min
Editor : Yudi

