Kandang Kambing Diduga Picu Gangguan Pernapasan Warga, Dinkes Cirebon Turun Tangan Cari Solusi
CIREBON – Setiap kali musim hujan tiba, Euis Junengsih (50) mengaku diliputi rasa cemas. Bukan karena ancaman banjir atau cuaca buruk, melainkan aroma menyengat yang berasal dari kandang kambing di samping rumahnya yang menurutnya semakin kuat saat hujan turun.
Bagi warga Blok Grewal RT 07 RW 03, Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon itu, persoalan tersebut bukan lagi sekadar soal kenyamanan lingkungan. Ia meyakini kondisi itu turut memengaruhi kesehatan yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Euis merupakan penyintas TB Paru Hemoptisis atau batuk darah. Sejak 2024, ia mengaku harus beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernapasan yang dialaminya.
Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon. Bersama pemerintah desa dan sejumlah petugas kesehatan, Dinkes melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau langsung kondisi lingkungan tempat tinggal Euis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengatakan peninjauan dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait dugaan dampak lingkungan terhadap kesehatan warga.
“Kunjungan dilakukan bersama program TB, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, dan surveilans. Agenda ini juga dihadiri oleh Pak Kuwu, Sekdes, dan Ketua RT setempat,” ujar Eni melalui keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Menurut Eni, penanganan dari sisi kesehatan telah dilakukan oleh pihak Puskesmas. Sementara untuk persoalan lingkungan dan aktivitas peternakan, diperlukan keterlibatan instansi teknis lainnya.
“Kami dari Puskesmas sudah turun. Tinggal Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pertanian dan Peternakan yang menindaklanjuti sesuai kewenangannya,” katanya.
Tiga Kali Dirawat di Rumah Sakit
Bagi Euis, persoalan yang dihadapinya telah berlangsung cukup lama. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, ia mengaku sudah tiga kali menjalani rawat inap akibat sesak napas yang dialaminya.
“Dari tahun 2024 sampai sekarang 2026 saya sudah mengalami tiga kali rawat inap di RS Permata,” tuturnya.
Kekhawatiran Euis semakin besar setelah mendapatkan pertanyaan dari tenaga medis mengenai kondisi lingkungan di sekitar rumahnya saat menjalani perawatan.
“Saat dirawat, dokter bertanya apakah ada pencemaran lingkungan di sekitar rumah. Saya jawab ada kandang kambing persis di sebelah rumah. Dokter mengatakan bisa jadi sumber penyakitnya dari situ,” kenangnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada hasil pemeriksaan resmi yang menyatakan secara pasti bahwa kondisi kesehatan Euis disebabkan oleh keberadaan kandang kambing tersebut.
Yang pasti, menurut Euis, aktivitas peternakan itu telah berlangsung sejak tahun 2004 dan aroma kotoran hewan kerap dikeluhkan sejumlah warga sekitar, terutama saat musim hujan.
Merasa belum memperoleh solusi yang memuaskan, ia mengaku telah menyampaikan keluhan ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, Dinas Kesehatan hingga Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon.
“Saya sedih, curahan hati saya sejauh ini hanya dicatat dan diterima dengan baik, tetapi belum ada tindakan nyata yang solutif di lapangan,” ujarnya.
Pemilik Kandang Mengaku Sudah Berupaya Menjaga Kebersihan
Di sisi lain, pemilik kandang kambing, Kadina (53), menyatakan memahami keluhan yang disampaikan tetangganya. Ia mengaku tidak pernah berniat menimbulkan gangguan bagi warga sekitar dan terus berupaya menjaga kebersihan lingkungan.
“Saya tetap menganggap tetangga saya baik. Kandang kambing saya selalu dibersihkan setiap hari karena saya tidak ingin ada benturan dengan warga. Sebagai sesama tetangga, kita harus bisa bersosialisasi dan tidak merugikan orang lain,” katanya.
Menurut Kadina, persoalan tersebut sebenarnya telah dimediasi oleh Pemerintah Desa Setu Wetan beberapa waktu lalu. Salah satu hasil kesepakatan yang dicapai adalah peningkatan frekuensi pembersihan kandang.
Sebelumnya, kandang dibersihkan setiap tiga hingga empat hari sekali. Namun setelah mediasi berlangsung, ia berkomitmen membersihkan kandang setiap hari.
“Setelah musyawarah dengan warga, sekarang saya bersihkan kandang setiap hari,” jelasnya.
Bagi Kadina, usaha peternakan kambing merupakan sumber penghidupan utama keluarganya. Meski demikian, ia mengaku memiliki keinginan untuk memindahkan lokasi peternakan apabila kondisi keuangan memungkinkan.
“Kalau ada rezeki lebih untuk beli tanah, saya ingin memindahkan kambing-kambing ini. Tapi apalah daya, harga tanah mahal dan pendapatan dari bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Menanti Jalan Tengah
Persoalan yang terjadi di Desa Setu Wetan memperlihatkan dua kepentingan yang sama-sama penting untuk diperhatikan. Di satu sisi, warga memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan nyaman. Di sisi lain, peternakan menjadi sumber mata pencaharian yang menopang kehidupan keluarga.
Kini, perhatian masyarakat tertuju pada langkah lanjutan yang akan diambil Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cirebon. Kedua instansi tersebut diharapkan dapat melakukan kajian menyeluruh untuk mencari solusi yang adil, sehingga kesehatan warga tetap terlindungi tanpa mengabaikan aspek ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari usaha peternakan.
Penulis : Mu’min
Editor : Yudi

