Sujud Syukur di Aspal Juanda, Tangis Haru Sambut Kepulangan Jemaah Haji Jawa Timur
SURABAYA – Malam baru saja menyelimuti Bandara Internasional Juanda Surabaya ketika sebuah pesawat dari Tanah Suci perlahan berhenti di area parkir pesawat, Senin (1/6). Di dalamnya, ratusan jemaah haji asal Jawa Timur membawa pulang satu hal yang tak terlihat mata: rasa syukur setelah menuntaskan perjalanan spiritual yang telah lama mereka impikan.
Satu per satu penumpang mulai turun dari pesawat Saudia Airlines dengan nomor penerbangan SV 5124. Wajah-wajah lelah tampak berpadu dengan senyum kebahagiaan. Sebagian menggenggam tas kecil, sebagian lagi berjalan perlahan sambil menatap sekitar seolah memastikan bahwa mereka benar-benar telah kembali ke tanah air.
Di tengah suasana itu, sebuah pemandangan mengharukan menyita perhatian.
Seorang jemaah pria yang baru turun dari bus pengangkut jemaah tiba-tiba berhenti. Mengenakan batik biru dan kopiah hitam, ia kemudian menundukkan tubuhnya hingga bersujud di atas aspal Bandara Juanda.
Kedua tangannya menempel ke tanah. Dahinya menyentuh bumi yang telah lama ia tinggalkan untuk memenuhi panggilan ibadah ke Tanah Suci.
Tak ada kata-kata yang terucap. Namun dari sujud yang berlangsung beberapa saat itu, tergambar rasa syukur yang begitu dalam karena telah diberi keselamatan selama perjalanan dan kesempatan kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Momen tersebut menjadi gambaran dari perasaan ratusan jemaah lain yang malam itu tiba sebagai bagian dari Kloter 1 Debarkasi Surabaya.
Tangis haru dan senyum bahagia terlihat di banyak wajah. Sebagian jemaah tampak saling menyapa dan berbincang ringan dengan rekan seperjalanan yang selama berminggu-minggu bersama menjalani rangkaian ibadah haji di Arab Saudi.
Kloter pertama ini terdiri atas 378 jemaah yang berasal dari Kota Malang, Kota Surabaya, dan Kabupaten Probolinggo.
Bagi mereka, perjalanan pulang bukan sekadar penerbangan lintas negara. Kepulangan ini menandai berakhirnya sebuah perjalanan spiritual yang penuh pengorbanan, doa, dan harapan.
General Manager Bandara Internasional Juanda, Muhammad Tohir, memastikan seluruh proses kedatangan berjalan lancar sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Alhamdulillah, Kloter 1 telah tiba dengan selamat, lancar dan aman di Bandara Juanda,” ujarnya.
Setelah turun dari pesawat, para jemaah diarahkan menuju bus khusus yang telah disiapkan di area parking stand. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan menuju Asrama Haji Surabaya untuk menjalani sejumlah pemeriksaan dan proses administrasi sebelum kembali ke daerah masing-masing.
Di balik kelancaran proses tersebut, berbagai persiapan telah dilakukan jauh hari sebelumnya. Bandara Juanda menjadi salah satu pintu utama kepulangan jemaah haji Indonesia, dengan total 116 kloter yang dijadwalkan tiba selama masa debarkasi hingga 1 Juli 2026.
Ribuan petugas dari berbagai instansi turut terlibat untuk memastikan setiap proses berjalan aman, tertib, dan nyaman.
Namun bagi para jemaah, yang paling berkesan bukanlah urusan teknis perjalanan.
Yang tersimpan dalam ingatan adalah pengalaman selama berada di Tanah Suci.
Laili, salah seorang jemaah asal Leces, Kabupaten Probolinggo, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat. Ia menilai pelayanan haji tahun ini memberikan kenyamanan yang sangat baik bagi para jemaah.
“Alhamdulillah sangat luar biasa. Saya rasa tidak ada yang kurang dan ke depannya tetap dipertahankan. Kami cukup puas, Alhamdulillah luar biasa,” katanya dengan wajah sumringah.
Baginya, pelayanan, konsumsi, hingga pendampingan selama ibadah berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman yang berkesan.
Malam itu, Bandara Juanda bukan sekadar tempat mendaratnya sebuah pesawat dari Jeddah. Bandara itu menjadi saksi bertemunya rasa rindu, syukur, dan kebahagiaan yang telah menempuh ribuan kilometer perjalanan.
Di antara roda koper yang berderak dan langkah kaki yang perlahan menuju bus, tersimpan cerita tentang doa-doa yang telah dipanjatkan di Tanah Suci, harapan yang dibawa pulang, serta kerinduan keluarga yang sebentar lagi akan terobati.
Dan di atas aspal bandara yang dingin itu, sebuah sujud syukur menjadi simbol paling sederhana tentang betapa berharganya kesempatan untuk pulang dengan selamat setelah menunaikan ibadah haji.
Penulis : Agus
Editor : Yudi

