Terparah Sepanjang Sejarah, Media Asing Kompak Soroti Jebloknya Nilai Tukar Rupiah
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan internasional setelah dilaporkan menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6).
Sejumlah media asing menilai pelemahan ini sebagai salah satu titik terendah dalam sejarah mata uang Indonesia.
Media asal Qatar, Al Jazeera, menyebut pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya biaya energi global. Dalam laporannya, Al Jazeera menyoroti bahwa tekanan pada neraca perdagangan turut memperburuk kondisi nilai tukar, seiring meningkatnya arus keluar modal dan kebutuhan impor energi.
Sementara itu, Asia Times dari Hong Kong menilai pelemahan rupiah tidak semata dipengaruhi penguatan dolar AS, tetapi juga mencerminkan tekanan internal pasar keuangan domestik. Media tersebut menyoroti adanya kepanikan pasar, arus modal keluar, serta keterbatasan likuiditas dolar di dalam negeri.
Asia Times juga menilai respons kebijakan otoritas moneter dianggap belum cukup agresif dalam meredam tekanan yang terjadi, meski inflasi domestik tercatat relatif terkendali.
Dari Singapura, The Straits Times melaporkan bahwa pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan tekanan pada pasar saham Indonesia. Media tersebut menyoroti kekhawatiran investor terhadap tingginya harga energi dunia serta kebijakan pemerintah yang dinilai dapat memengaruhi sektor komoditas.
Dalam laporannya, The Straits Times juga menyinggung kebijakan pengawasan lebih ketat terhadap ekspor sejumlah komoditas strategis yang disebut turut memengaruhi sentimen pasar.
Hingga kini, pelemahan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar dan ekonom, terutama terkait dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional, inflasi impor, serta daya beli masyarakat di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Editor : Yudi

