TERASKATA

Membangun Indonesia

Uki Handoyo: Marxisme Bukan Momok, Tapi Alat Pembebasan untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Uki Handoyo Budayawan dan Aktivis Sosial/Lingkungan.(Foto Teraskata.com/Hryt)

TERASKATA.COM, BREBES – Di ruang publik, kata “Marxisme” sering kali diucapkan dengan nada berbisik, penuh kecurigaan, atau bahkan diteriakkan sebagai label bahaya yang harus dienyahkan. Namun, apakah Marxisme benar-benar sebuah momok yang harus ditakuti?

Hal itu disampaikan oleh Uki Handoyo Budayawan dan Aktivis Sosial/Lingkungan, kepada awak media Teraskata.com pada , Sabtu 24/01/2026.

Lebih lanjut Uki Handoyo mengatakan, Jacques Derrida, dalam Specters of Marx (1993), membela kehadiran “hantu” Marx ini—bukan sebagai dogma mati dari rezim yang sudah runtuh, melainkan sebagai suara penuntut keadilan yang terus menggentayangi ketidakadilan di mana pun.

Setelah keruntuhan Uni Soviet, ketika Francis Fukuyama gegap gempita menabuhkan genderang “Akhir Sejarah” dan kemenangan mutlak liberalisme kapitalis, Derrida mengingatkan: hantu Marx justru lebih diperlukan daripada sebelumnya. Ia adalah ingatan yang tak mau padam tentang janji emansipasi, sekaligus kritik terhadap dunia yang mengira dirinya telah sempurna,”Ujarnya.

Lantas, mengapa kita harus takut pada Marxisme? Apakah karena kita takut pada pencerahan? Apakah karena kita takut pada alat yang bisa membongkar kemapanan kekuasaan yang tidak adil?

Menurut Uki Handoyo,Marxisme pada intinya, adalah sebuah alat analisis dan alat pembebasan yang sangat kuat untuk memahami dan mengubah ketimpangan. Ia membantu kita menelusuri akar masalah sosial—kemiskinan, eksploitasi, kerusakan lingkungan, alienasi budaya—bukan pada moral individu atau nasib, tetapi pada struktur ekonomi-politik yang timpang.

Sebagai bangsa yang besar, kita harus berani melampaui ketakutan yang dibekukan oleh sejarah politik. Kita harus berani menyambut “hantu” itu bukan sebagai momok, tapi sebagai semangat kritis yang membela kaum tertindas, sebagai suara yang mempertanyakan kemapanan, dan sebagai cahaya penuntun untuk mewujudkan janji kemerdekaan: kesetaraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,”terangnya.

Uki Handoyo menambahkan, Marxisme, pada akhirnya, bukan tentang masa lalu yang kelam. Ia adalah tentang masa depan yang berdaulat. Ia adalah alat pembebasan untuk membebaskan kita dari belenggu ketakutan itu sendiri, lalu bersama-sama membebaskan negeri ini dari belenggu ketidakadilan.

Hantu itu tidak menakutkan; yang menakutkan adalah ketika kita memilih untuk tutup mata pada penderitaan nyata di sekitar kita, hanya karena takut pada sebuah kata. Marilah kita takuti ketidakadilan, bukan pikirannya yang membongkar ketidakadilan itu,”Pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini