TERASKATA.COM

Membangun Indonesia

Viral Porsi Menu MBG di Cirebon, Mandor Desa Kecomberan Minta Maaf

Mandor Desa Kecomberan, Suroto saat memperlihatkan porsi Menu MBG yang saat ini sudah mengalami peningkatan kualitas. (ft:Mu'min)

TERASKATA.COM, CIREBON – Polemik terkait porsi menu MBG atau Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Cirebon yang sempat viral di media sosial akhirnya diklarifikasi. Mandor Desa Kecomberan, Suroto, mengakui terjadi kesalahpahaman terkait menu MBG yang sebelumnya ia kritik melalui video yang beredar luas.

Kontroversi bermula setelah video rekaman Suroto tersebar di sejumlah grup WhatsApp pada Rabu (06/05/2026). Dalam video tersebut, ia mempertanyakan kelayakan 176 paket makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Talun.

Suroto menilai isi paket makanan tersebut terlalu sedikit. Paket itu diketahui berisi dua butir telur puyuh, satu potong tahu kecil, satu porsi bubur, dan satu buah pisang.

Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari pihak terkait, Suroto menyadari bahwa dirinya keliru memahami sasaran penerima paket makanan tersebut.

“Saya salah persepsi, ternyata menu itu hanya untuk balita saja, bukan untuk ibu hamil atau menyusui,” ujar Suroto di Kantor Desa Kecomberan, Senin (11/5/2026).

Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang sempat terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, polemik tersebut membuat dirinya merasa tidak enak hati karena banyak warga Desa Kecomberan yang bekerja di dapur SPPG.

Suroto juga mengungkapkan bahwa kualitas porsi menu MBG saat ini sudah mengalami peningkatan dibanding sebelumnya.

Sementara itu, Kuwu Desa Kecomberan, Mastur Hidayat, menjelaskan bahwa menu yang viral tersebut terdiri dari bubur sup jagung krimer, pisang, dua telur puyuh, dan tahu kukus.

Menurut Mastur, menu tersebut telah disusun berdasarkan standar gizi yang ditetapkan oleh tenaga ahli.

“Penjelasan dari ahli gizi di dapur SPPG Desa Kecomberan menyatakan menu tersebut sudah sepenuhnya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) kesehatan,” tegasnya.

Mastur menilai polemik muncul akibat perbedaan persepsi masyarakat terkait ukuran porsi balita dengan porsi konsumsi orang dewasa. Ia juga memaklumi adanya kendala pada tahap awal operasional dapur MBG karena program tersebut masih tergolong baru di wilayahnya.

Pemerintah Desa Kecomberan memastikan persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan dan dijadikan bahan evaluasi bersama untuk meningkatkan kualitas layanan program MBG.

Saat ini, distribusi program MBG di Desa Kecomberan disebut berjalan aman dan kondusif, termasuk adanya peningkatan mutu makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat.

“Sekarang di sini porsi MBG sudah bagus, sesuai dengan gizinya, dan sudah ada peningkatan. SPPG di Desa Kecomberan sudah bisa mengevaluasi dan meningkatkan nilai gizi,” kata Mastur.

Ia menambahkan, dapur MBG di Desa Kecomberan akan terus berkomitmen mendukung program pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak.

“Hingga ke depan, dapur MBG khususnya di Desa Kecomberan akan terus mendukung program pemerintah pusat untuk meningkatkan gizi masyarakat dan anak,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen SPPG Kecamatan Talun belum memberikan keterangan resmi terkait video viral yang sempat menjadi perhatian publik tersebut.

Penulis : Mu’min
Editor : Yudi