TERASKATA.COM

Dari Timur Membangun Indonesia

Chef Juna Ungkap Perjalanan Hidupnya: Dari Sekolah Pilot, Ngorek Sampah Buat Makan hingga Jadi Chef

admin |
Junior Rorimpandey atau yang karib disapa Chef Juna.

TERASKATA.com – Junior Rorimpandey atau yang karib disapa Chef Juna meraih kesuksesan seperti sekarang lewat perjuangan maha-berat. Dia menapaki perjalanan hidup yang keras semasa muda, hingga sempat terdampar di Amerika Serikat (AS).

Juna menjelaskan hidup sebagai anak broken home. Dia memiliki satu orang kakak. “Aku punya kakak 8 tahun lebih tua. Kami menjalani kehidupan yang keras,” tegasnya di Podcast Deddy Corbuzier, Minggu (1/11/2020),

Dia sejatinya sempat kuliah di Trisakti tahun 1990-an, namun putus di tengah jalan. “Aku masih kuliah di Trisaksi tahun 1993, bandal banget,” akunya.

Segala kebandalan telah dilakoninya, hingga suatu pagi, dia menatap ke cermin dan menyadari pentingnya berubah. “Kalau gue terus-terus begini, gua akan mati muda, atau end up di penjara, simpel,” lanjutnya.

Pada suatu kesempatan, dia akhirnya menemukan jalan untuk memulai sesuatu yang baru. Dia menceritakan bahwa ibunya bekerja di perusahaan travel agen. Selama ini dia hidup mandiri jauh dari ibunya. Namun, suatu hari dia menuruti permintaan ibunya untuk melihat pameran pendidikan asing.

“Gue dari kecil sendiri, broken home family. Ada pameran di JICC, tentang sekolah di luar negeri, yang kebetulan kerja sama dengan travel nyokab. Ada satu sekolah pilot, menjanjikan 20.000 dollar berangkat lu dapat 6 bulan houseing dan selesai sekolah, commercial pilot license 250 jam terbang, dan bisa ngelamar kerja di LA,” kenangnya.

Saat itu, Juna tergiur. Dia sampai menjual sepeda motor Harley kesayangannya. “Benar, gue jual motor gue, gua berangkat, aku tinggalkan semua kehidupan saat itu. gue sekolah pilot,” lanjutnya.

Namun, ternyata saat dijalani, ternyata sekolah pilot itu tidak benar-benar hanya selama 6 bulan. Dan kenyataan pahit lainnya sekolah pilot itu bangkrut. Sehingga anak didik yang sebagian juga orang Indonesia harus menerima kondisi itu dan memilih tetap di AS untuk menjalani hidup. “Akhirnya kita berkelana ke kota kecil ke Houston,” timpalnya.

Saat itu, masih ada harapan untuk melanjutkan sekolah demi mendapatkan sertifikat pilot. “Ibuku akhirnya gali-gali dia punya tabungan, niatnya bantu untuk menyelesaikan commercial lisense sampai di dekat Houston. Baru sebentar economy crisis, nyokap telepon enggak bisa bantu uang makan lagi,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini