TERASKATA

Membangun Indonesia

Jembatan Miring dalam Lintasan Sejarah di Tana Luwu

Proses perbagikan jemabatan. Tampak Djie Adjeng (tengah mengenakan topi). FOTO KOLEKSI ONGGIP

Catatan : Samsudar Syam

30 Oktober 2021, Jembatan Miring yang menghubungkan Kota Palopo dengan Kabupaten Luwu retak. Pengoperasian fungsi infrastruktur itu dihentikan.

Luapan air sungai yang melintas di bawah Jembatan Miring mengikis dasarnya. Dikhawatirkan beban berat yang melalui jembatan akan mengakibatkannya ambruk.

Kini, jembatan itu istirahat dari menahan beban sepenuhnya. Bukan hanya beban, jembatan itu juga memiliki peran penting dalam lintasan sejarah di Tana Luwu selama ini.

Konstruksi jembatan miring sendiri sudah ada sejak pemerintahan KNIL/NICA Belanda. Jembatan itu digunakan NICA untuk memperluas wilayah kekuasannya sejak bekedudukan di Palopo.

Mereka juga menggunakannya untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah Utara Tana Luwu masuk ke Kota Palopo. Serta memanfaatkannya untuk mempermudah lalu lintas pasukan NICA pada kisaran tahun 1920.

Di tahun-tahun pendudukan NICA Belanda, landasan jembatan miring masih menggunakan kayu. Tidak seperti saat ini yang sudah menggunakan aspal.

Kemudian peristiwa besar terjadi. Pada 1949 pemberontakan Masamba (Masamba Affairs) meletus.

Kerusuhan terjadi di beberbagai wilayah. Keinginan besar terbebas dari penjajahan NICA membakar semangat pejuang di Tana Luwu.

Pada saat itulah sejumlah jembatan yang dibangun dibakar. Situasi Tana Luwu tidak aman, kondisi mencekam.

LANJUT KE HALAMAN BERIKUTNYA >>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

IKLAN BANNER