Peneliti Dorong Bahasa Wotu Masuk Muatan Lokal, Kalau Serius Mau Lestarikan!
Untuk itu, Nuraidar berharap bantuan dari anggota DPRD Lutim dan Bupati Lutim untuk membuat regulasi penetapan Bahasa Wotu dalam muatan lokal.
Salah seorang Tokoh Adat Kemacoaan Bawalipu yang juga pemerhati Bahasa Wotu, Rustam Laluka mendukung rekomendasi Balai Bahasa untuk menjadikan Bahasa Wotu sebagai materi mulok, minimal di SD.
“Kalau ada regulasinya, minimal dalam bentuk peraturan bupati (Perbup), saya kira itu bisa direalisasikan,” ujar Rustam.
Rustam yang juga Kepala SDN 135 Binano, Kecamatan Wotu ini mengaku tenaga pendidik sudah siap jika memang Bahasa Wotu dimasukkan dalam mulok.
“Kami sementara menyusun bukunya. Kalau mau dimasukkan mulok, kami (guru) sangat siap,” imbuhnya.
Namun untuk tahap awal, Rustam menyebut mungkin sebaiknya diterapkan di beberapa sekolah lebih dulu. Tapi target ke depan, semua sekolah di Wotu memasukkan Bahasa Wotu dalam muatan lokal.
Diberitakan sebelumnya, Bupati Luwu Timur, Budiman ikut prihatin dengan kondisi yang dipaparkan peneliti tentang kondisi kritis Bahasa Wotu.
Namun Ia optimis, Bahasa Wotu tidak akan punah. Bersama para tokoh adat dan tokoh masyarakat, Pemkab Lutim akan berupaya semaksimal mungkin untuk melestarikan Bahasa Wotu.
“Harus ada gerakan penyalamatan Bahasa Wotu. Kalau perlu ada kawasan khusus wajib berbahasa Wotu dan ada hari yang ditetapkan, di mana semua warga Wotu harus menggunakan Bahasa Wotu. Kalau ada tamu dari luar, ya pakai penerjemah,” kata Budiman dalam sambutannya di acara Revitalisasi Bahasa Wotu, Minggu kemarin.(int)




Tinggalkan Balasan