OPINI: 75 tahun Indonesia Merdeka, Semua Tentang Kita, Bukan Mereka!!!
Oleh : Ammad Rifai Saputra (Mahasiswa IAIN Palopo)
Kepada generasi baru yang terasing
Kepada mereka yang bekerja di tengah sepi
Kepada mereka yang berkarya dengan penuh kesungguhan
Kepada jiwa-jiwa muda yang miskin dari keangkuhan dan arogansi tapi kaya dengan kesederhanaan
Kepada kafilah para pejuang yang sepi dari propaganda tapi hingar bingar dengan karya nyata
Kepada putra-putri terbaik yang siap melanjutkan estafeta perjuangan para pahlawan
Kepada orang-orang yang siap menapaki langkah-langkah abadi
Kepada pemuda benteng kebenaran yang selalu rindu tertegaknya kejayaan
Kepada pewaris tahta nan gemilang yang menapak tegak menyongsong Indonesia baru
Kepada Indonesia Muda… Tulisan ini kutujukan
Yah, tepat hari ini, bangsaku yang indah nan elok ini telah mengulang tanggal dan bulan kemerdekaannya. Dari segi usia, ia tak lagi muda, andai diibaratkan dengan manusia, ia sudah memasuki fase usia yang sudah tua.
Bangsa ini telah berhasil merebut kemerdekaannya setelah ratusan tahun di jajah oleh para kolonialisme, bukan tanpa sebab, bangsa yang besar ini di jajah karena melimpah ruahnya rempah-rempah dan kekayaan alamnya.
Tetapi, karena kuat dan kokohnya para pejuang dan pahlawan bangsa ini, ia berhasil membuktikan bahwa negara indonesia layak untuk MERDEKA!!!
Sejarah membuktikan bahwa indonesia adalah bangsa pejuang, bangsa yang berpegang teguh pada prinsip dan tidak mengenal kata menyerah, tetapi, sampai kapan kita terjebak pada romantisisme sejarah?
Di usia yang tidak muda lagi ini, bangsa indonesia tidak begitu menampakkan taringnya, mungkin, indonesia memang telah merdeka dari penjajahan, tapi apakah bangsa ini telah betul-betul merdeka?, ekonomi kita masih dikuasai oleh asing, kekayaan alam kita dirampas oleh negara-negara besar, dan parahnya lagi pendidikan kita masih sangat dibawah jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Bangsa ini lemah dari segi etos kerja, bangsa kita bangsa konsumerisme. Entah kenapa kita selalu menjadi bangsa follower, selalu mengikuti budaya bangsa lain, Gejolak sosial pun kiat menguat seiring perubahan yang terjadi dari kolektivisme menjadi individualisme. Bukan membangun, justru turut memperkeruh keadaan. (Catatan buruk bangsa)
Mari kita renungkan kembali jati diri bangsa ini. Kita punya budaya kita sendiri, kita punya cara hidup kita sendiri, kita punya potensi kita sendiri, mengapa harus menggunakan cara orang lain? Kita cari jati diri kita dan kita manfaatkan potensi yang ada agar kita bisa menjadi bangsa yang besar.
Kita tidak individualis-mandiri, kita tidak juga berbakti pada para penguasa. Mari kita berpikir potensi apa yang kita miliki yang bisa membuat bangsa ini maju.
Jawabannya hingga saat ini adalah kolektivitas kelompok yang sangat kuat jika kita bisa mengolahnya dengan tepat, mungkin bangsa ini bisa maju dengan pesat.
Bayangkan suatu saat nanti orang-orang Indonesia memiliki totalitas dalam bekerja dengan dilandasi semangat persaudaraan dan pengabdian untuk Tuhan mereka. Bukankah kita bangsa yang memiliki rasa persaudaraan yang tinggi dan religius?
Sering sekali saya mendengar orang-orang yang mencemooh apa yang dilakukan pemerintah. Pemerintah begini lah, pemerintah begitu lah. Baiklah memang saya akui bahwa para pemegang kekuasaan NKRI di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif belum mencapai tingkat kinerja yang ideal. Akan tetapi apakah semua keburukan yang terjadi di NKRI ini adalah tanggung jawab dan akibat perbuatan mereka?
Mari kita pergi ke sebuah negeri di daerah Asia Timur yang bernama Jepang. Apa keunggulan mereka dibanding kita? Jelas kita tertinggal jauh dalam hal teknologi dibanding mereka. Pertanyaannya adalah mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena mereka giat bekerja.
Sebuah hal yang pantas kita renungkan adalah siapakah yang berkewajiban untuk bekerja, kita (masyarakat/diri kita sendiri) atau mereka (pemerintah)? Tentu tanggung jawab untuk giat bekerja ada pada diri sendiri. Oleh karena itu sungguh tidak bijak menyalahkan mereka atas tanggung jawab yang tidak kita lakukan.
Kita ambil sebuah contoh lain dimana sebuah kota di Barat dipandang lebih maju daripada kota lainnya di NKRI. Kota itu adalah kota yang teratur, masyarakatnya taat berlalu lintas, bersih, dan nyaman. Mari kita selidiki satu persatu.
Apa yang menyebabkan lalulintasnya teratur? Apakah karenaa selalu diatru oleh pihak yang berwenang (Polisi)?ternyata tidak, Polisi disana hanya duduk-duduk di dalam mobil sambil makan kue donat (seperti adegan film). Tetapi masyarakatnya menaati rambu lalu lintas semisal traffic light, tidak parkir sembarangan, dan sebagainya.
Lalu mengapa kota tersebut bisa bersih? Apakah petugas kebersihannya berdedikasi tinggi dan jumlahnya banyak? Ternyata tidak. Di sudut jalan kita melihat seorang warga Negara mengantongi bungkus permen yang telah dia makan. DI tempat lain kita lihat beberapa orang membuang sampah pada tempatnya.
Mengapa kota tersebut begitu nyaman? Karena kota tersebut bersih dan teratur. Bagaimana dengan disini yang kebalikannya. Siapakah yang yang menyebabkan kota ini kotor dan tidak teratur? Itu semua adalah kita sendiri, kita yang membuang sampah sembarangan, kita yang menerobos lampu merah, dan sebagainya.
Jadi bagaimana membuat bangsa ini maju? Semuanya dimulai dari KITA bukan MEREKA. Ketika kita kagum pada Microsoft buatan Amerika maka sebenarnya siapa yang kita kagumi? Presiden Amerika atau Bill Gates?? Lalu siapakah Bill Gates? Apakah dia Mentri Teknologi? Bukan, Bill Gates adalah warga Negara biasa yang membuat negaranya bangga. Kebanggaan yang dikumpulkan dari tiap individu itulah yang membuat Negara itu tampak besar.
Saya pikir, kalaupun Ahmadinejad ataupun Barrack Obama sekalipun menjadi presiden Indonesia, negeri ini tidak akan berubah kecuali kita sebagai rakyatnya mau berubah.
Jadi kini saatnya kita teriakkan, “Ini semua adalah tentang KITA, bukan MEREKA!!!”. Mulailah bertindak untuk sebuah perubahan. Jangan mengharapkan perubahan akan datang dengan sendirinya dan tiba-tiba. (catatan buruk bangsa).
Kita hadir dengan ke-Indonesiaan kita, bukan hadir sebagai peniru bangsa-bangsa yang sudah terkenal di mata Internasional. Kita datang dengan menunjukkan jati diri kita dan bukan datang dengan meniru mereka.
Maka seharusnya kita minimal memiliki semangat itu. Tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia itu ada dengan jati dirinya. Jika beberapa puluh tahun yang lalu para pendahulu kita mampu, kenapa kita tidak? (*)






Tinggalkan Balasan