Pancasila di Tengah Generasi Digital Kota Palopo
SETIAP tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi nilai yang mempersatukan keberagaman. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam keseharian generasi muda kita?
Pertanyaan itu menjadi relevan jika melihat kondisi sosial hari ini, termasuk di Kota Palopo. Arus digitalisasi telah mengubah pola komunikasi, cara berpikir, bahkan cara generasi muda memahami identitas kebangsaan. Media sosial kini lebih berpengaruh dibanding ruang kelas, sementara informasi yang beredar tidak semuanya membawa nilai positif. Akibatnya, generasi muda semakin mudah terjebak dalam polarisasi, intoleransi, hingga budaya individualisme yang bertentangan dengan semangat Pancasila.
Di Kota Palopo, perkembangan teknologi dan akses internet terus meningkat. Di satu sisi, hal ini membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan dan ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius terhadap pembentukan karakter generasi muda. Fenomena perundungan siber, ujaran kebencian, hingga rendahnya budaya literasi menjadi persoalan yang mulai terasa di lingkungan pelajar dan mahasiswa.
Ironisnya, pendidikan Pancasila sering kali masih diajarkan secara formal dan teoritis. Siswa menghafal sila-sila Pancasila, tetapi tidak benar-benar memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tantangan terbesar Pancasila hari ini bukan pada eksistensinya sebagai dasar negara, melainkan pada implementasinya dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sila Persatuan Indonesia misalnya, semakin diuji di era digital. Generasi muda kini hidup dalam ruang media sosial yang dipenuhi algoritma. Mereka lebih sering berinteraksi dengan orang yang memiliki pandangan sama, sementara perbedaan dianggap ancaman. Akibatnya, budaya dialog perlahan melemah. Padahal, Indonesia dibangun justru karena kemampuan masyarakatnya merawat perbedaan.
Kondisi tersebut menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan di Palopo. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya fokus pada capaian akademik semata, tetapi juga harus menjadi ruang pembentukan karakter kebangsaan. Pendidikan perlu hadir sebagai benteng moral di tengah derasnya pengaruh digital yang sering kali tidak terkendali.
Dalam konteks ini, Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi sistem pendidikan lokal. Apakah sekolah sudah berhasil melahirkan generasi yang memiliki empati sosial? Apakah siswa diajarkan menghargai perbedaan? Apakah lingkungan pendidikan sudah bebas dari diskriminasi dan bullying? Jika jawabannya belum, maka berarti nilai Pancasila masih berhenti pada slogan.
Padahal, Palopo memiliki modal sosial yang kuat untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. Budaya masyarakat Luwu yang menjunjung sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge sejatinya sejalan dengan nilai kemanusiaan dan gotong royong dalam Pancasila. Nilai lokal seperti ini semestinya diintegrasikan dalam proses pendidikan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Selain itu, penguatan pendidikan karakter perlu dilakukan secara lebih kontekstual. Guru tidak cukup hanya mengajarkan teori tentang kebangsaan, tetapi juga harus mampu menjadi teladan dalam sikap toleransi, kejujuran, dan kedisiplinan. Pendidikan Pancasila juga perlu dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi generasi muda hari ini, seperti etika bermedia sosial, bahaya hoaks, hingga pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan politik.
Pemerintah daerah juga memiliki peran strategis. Program pendidikan karakter jangan hanya hadir saat peringatan nasional semata, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan jangka panjang. Kota Palopo membutuhkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan sosial.
Lebih jauh lagi, Pancasila harus dipahami sebagai nilai yang hidup, bukan sekadar simbol negara. Ketuhanan bukan hanya soal ritual, tetapi juga tentang penghormatan terhadap sesama manusia. Kemanusiaan bukan hanya konsep normatif, tetapi keberanian melawan diskriminasi dan kekerasan. Persatuan bukan hanya slogan upacara, tetapi kemampuan menjaga harmoni di tengah perbedaan.
Jika nilai-nilai itu benar-benar ditanamkan dalam pendidikan, maka Palopo dapat menjadi kota yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga kuat secara karakter sosial. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Hari Lahir Pancasila akhirnya harus dimaknai sebagai panggilan moral untuk memperkuat kembali arah pendidikan kita. Generasi muda Palopo tidak boleh hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja, tetapi juga harus dipersiapkan menjadi warga negara yang memiliki tanggung jawab sosial, semangat gotong royong, dan kesadaran kebangsaan.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, Pancasila sesungguhnya tetap relevan sebagai penuntun kehidupan bersama. Tantangannya kini bukan lagi bagaimana menghafalnya, tetapi bagaimana menghidupkannya dalam ruang kelas, media sosial, lingkungan keluarga, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. (*)
Penulis Opini adalah Andi Zulkifli Daido (Peneliti AZDA Institute)

