Perahu Pincara Tenggelam di Sungai Rongkong, 2 Korban Belum Ditemukan
TERASKATA.COM, LUWU UTARA – Perahu pincara yang digunakan warga untuk menyeberangi Sungai Rongkong, Luwu Utara, tenggelam Selasa (17/8/2021) pagi.
Perahu itu memuat 23 orang. Dua di antaranya dinyatakan hilang, terbawa arus sungai. Tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak pagi tadi.
Namun hingga Selasa petang kedua korban tenggelam belum ditemukan dan pencarian terpaksa dihentikan.
Pencarian oleh tim SAR gabungan rencananya dilanjutkan besok pagi, Rabu (18/8/2021).
“Belum ada tambahan, tetap masih ada dua yang belum ditemukan,” kata Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara, Syahrul.
“Lanjut lagi besok pagi,” sambung Syahrul.
Menurut Syahrul, pencarian sore tadi menemui sejumlah kendala.
Diantaranya debit air tinggi, arus kuat, dan keruhnya air.
“Airnya sangat keruh, sangat menyulitkan pendangan,” tuturnya.
Sungai Rongkong merupakan sungai terbesar di Luwu Utara.
Hulu sungai ini berada di Rongkong dan bermuara di Malangke Barat.
Sungai ini merupakan salah satu penyebab utama banjir.
Sekadar diketahui, pincara yang terbalik di Sungai Rongkong, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, kelebihan muatan.
Demikian dikatakan Kapolsek Baebunta, Ipda Nelti.
Selain kelebihan muatan, pada pincara tersebut tidak ada manifest penumpang dan alat keselamatan (pelampung).
“Saat kejadian, debit air sungai sedang meningkat atau arusnya cukup deras,” kata Nelti.
“Banyaknya jumlah penumpang turut menjadi penyebab mesin perahu tidak mampu melawan air,” tuturnya.
Pincara merupakan satu-satunya akses yang dapat digunakan warga.
Bila ingin menyebrangi Sungai Rongkong setelah jembatan gantung hanyut akibat banjir bandang tahun lalu.
“Karena merupakan pengadaan swadaya, pengelolaan perahu penyebrangan dilakukan secara sederhana oleh warga, tanpa adanya manifest serta perangkat keselamatan berupa pelampung,” jelasnya.
Kedua korban yang belum ditemukan kemungkinan telah tenggelam dan terbawa arus sungai hingga ke wilayah Kecamatan Malangke Barat.
“Luasnya area pencarian serta keruh dan derasnya air sungai menyulitkan upaya pencarian yang dilakukan oleh tim SAR,” tuturnya.
Peristiwa ini, lanjutnya terjadi Selasa (17/8/21) sekitar pukul 09.00 Wita.
“Pincara dikemudikan oleh lelaki Firman alias Aco,” katanya.
Ia menjelaskan, pincara berupa dua unit perahu yang dipasang sejajar dengan jarak sekitar satu meter.
“Kemudian dipasangi lantai berupa papan kayu untuk menampung penumpang dan barang,” katanya.
Sebelum kejadian, rombongan warga Dusun Melati dari sebelah barat sungai hendak menghadiri acara hakikah di sebelah timur sungai.
Mereka menumpang pincara yang dikemudikan Firman.
Setelah menyebrang, sekitar 60 meter dari dermaganya, mesin perahu tidak kuat melawan arus deras.
Pincara lalu hanyut kemudian menabrak tiang beton bekas jembatan gantung.
Tabrakan tersebut menyebabkan stand mesin perahu patah.
Sehingga mesin perahu matib dan tenggelam usai kemasukan air.
Penumpang yang ada di atas jatuh dan hanyut terbawa arus sungai.
“Setelah menyelamatkan diri dan dilakukan pemeriksaan, ada dua orang penumpang yang belum diketahui keberadaannya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Beringin Jaya, Asrianto, mengatakan, pincara memuat 21 penumpang, serta dua operator Pincara.
Asrianto mengatakan, dari 23 orang yang menjadi korban, dua diantaranya dinyatakan hilang.
Keduanya adalah Manasia (50) dan Fivo (10).
“Dua yang masih hilang, satu orang dewasa dan satu anak-anak,” katanya.
Sementara sisanya dinyatakan selamat dan sudah kembali ke rumah masing-masing.(*/int)





Tinggalkan Balasan