Diduga Fiktif Program Wanatani di Kecamatan Mamasa
MAMASA – Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sulawesi Selatan ( Sulsel) melaksanakan program wanatani di Kabupaten Mamasa sejak tahun 2023 lalu.
Tak main-main anggaran yang di gelontorkan milliaran rupiah kepada setiap desa. Penerima program adalah Kelompok Tani Hutan (KTH). Hanya saja, program ini dinilai gagal total. Salah satu contohnya terjadi di Desa Bubun, Kecamatan Mamasa.
Warga sekitar menilai, kurang dari 10 persen penanaman yang dilakukan sukses, di Dusun Rantelemo.
”Kalau tumbuhnya tidak sampai sepuluh persen yang tumbuh pak,” ujar salah satu warga, Yulianus M warga desa bubun batu, Kamis 26/02/26.
Bahkan Yulianus mengaku, sejak program itu masuk hanya di berikan bibit satu kali, yakni bibit Alpukat.
” Yang diberikan hanya bibit Alpukat. Biaya pemeliharaan pupuk dan lainnya tidak ada,” katanya lagi.
Sementara lanjut dia, setiap kali turun pemerikasa tanamannya di jadikan sampel.
“Kalau turun pemeriksa tanaman kami yang di jadikan sampel. Sebab ada yang tumbuh di kebun saya sekitar 50 pohon,” lanjut Yulianus.
Ia mengaku heran terhadap kinerja BPDAS Sulsel yang diduga kerap membuat laporan fiktif. Sebab fakta di lapangan tidak sesuai.
“Dugaan laporan fiktif ini, sebab kenapa tidak ada temuan sementara fakta dilapangan tidak sesuai,” Ujarnya lagi.
Ia menyampaikan bahwa pengadaan bibit Alpukat itu ada yang tidak di tanam bahkan di buang begitu saja.
“Ada yang tidak di tanam pak. Bisa saya perlihatkan itu di buang saja itu bibitnya di hutan,” Pungaksnya.
Program KTH di Desa Bubun batu perkikaran 28 hektar yang di tanam adalah Pohon Alpokat Pohon induk Pinus dan Setari.
Pihak Balai BPDAS Sulsel yang di konfirmasi wartawan mengaku bahwa pihaknya selalu turun melakukan pemeriksaan.
“Ya, kami sering turun melakukan pemeriksaan,” singkat Yosep selaku PPPK. (abriano)










Tinggalkan Balasan