Aktivis Mamasa Ancam Demo BPDAS Sulsel Terkait Program RHL dan Agroforestry di Mamasa
TERASKATA.Com, Mamasa – Aktivis Mamasa menyorot tajam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan, serta Agroforestry yang masuk di Kabupaten Mamasa pada tahun 2023 lalu.
Aktivis Pemuda Mamasa, Altrio Pampang Madika menilai program tersebut gagal. Sehingga kinerja Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sulawesi Selatan wajib dipertanyakan.
”Kalau itu gagal, tidak bisa dibiarkan. Apalagi anggarannya tidak mai-main,” ujar Kader GMKI Cabang Makassar itu, Minggu (22/02/26).
Ia mengatakan, pihak BPDAS Sulsel wajib menjelaskan kepada publik terkait penyebab kegagala program tersebut.
”Kita akan pertanyakan kepada pihak Balai kenapa lebih banyak gagal dari pada tumbuhnya tanaman tersebut,” katanya lagi.
Altrio mengancam akan melakukan aksi unjukrasa jika pihak BPDAS Sulsel tidak mampu menjelaskan penyebab kegagalan dan langkah tindaklanjut yang akan diambil selanjutnya.
”Kalau tidak ada tanggung jawab pihak Balai pasti kami akan demo BPDAS Sulsel,” pungkasnya.
Diketahui pada tahun 2023 silam, BPDAS Sulsel menjalankan program kegiatan RHL dan Agroforestry di Kabupaten Mamasa.
Program ini menelan anggaran fantastis sekitar Rp1,6 miliar. Selain dinilai gagal, program ini diduga sarat indikasi penyimpangan.
Kegagalan program ini pun diakui oleh warga sekitar lokasi, yakni Desa Bubun Batu, Kecamatan Mamasa.
”Kalau berhasilnya mungkin hanya sampai 30 persen. Bisa di cek langsung di hutan,” ujar warga Desa Bubun Batu yang minta namanya tidak disebutkan.
Berdasarkan hasil pantauan wartawan di lapangan, kegiatan tersebut memang diperkirakan hanya 30 persen saja yang berhasil.
Program RHL dan Agroforestry
Sekedar informasi, Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah upaya memulihkan fungsi hutan/lahan melalui penanaman pohon kehutanan dikombinasikan dengan tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) seperti alpukat, durian, atau tanaman buah lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan sistem penyangga kehidupan.
Agroforestry adalah teknik RHL yang memadukan pohon hutan dengan tanaman pertanian/peternakan guna memberikan manfaat ekologis dan ekonomis sekaligus.
Adapun tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan tutupan lahan, mengurangi deforestasi, menyimpan karbon, dan menyediakan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat (ekonomi hijau).
Selain memperbaiki ekosistem, target program ini bertujuan mencapai swasembada pangan, energi, dan air, serta mendukung Indonesia FOLU Net Sink 2030.
(Abriano)







Tinggalkan Balasan