TERASKATA

Membangun Indonesia

Dari Latihan Sunyi ke Panggung Juara: Fahmil Qur’an Putra Luwu Timur Guncang MTQ Sulsel 2026

admin |

TERASKATA.COM, MAROS – Tak banyak yang tahu, di balik gemuruh tepuk tangan dan gemilangnya panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an XXXIV Sulawesi Selatan 2026, ada cerita tentang latihan panjang, kegugupan, dan tekad yang nyaris tak terlihat.

Namun, Jumat (17/04/2026) siang itu di Aula Baruga A Kantor Bupati Maros, semuanya terbayar lunas.

Tim Fahmil Qur’an Putra Kabupaten Luwu Timur tampil bukan sekadar untuk bertanding—mereka datang untuk menang.

Tiga nama muda—M. Safwan Alfaridzi, Farid Atallah, dan Al Qadri Ma’mur Ramadhan Jamil—berdiri dalam satu regu, menyatukan hafalan, kecepatan berpikir, dan ketenangan di bawah tekanan. Di tengah sorotan dan detik-detik yang menegangkan, mereka menunjukkan satu hal, kepercayaan diri yang terlatih.

Setiap soal dilahap dengan presisi. Satu per satu jawaban dilontarkan tanpa ragu. Hingga akhirnya, momen krusial datang—soal lontaran. Di sinilah mental juara diuji. Dan Luwu Timur tidak menyia-nyiakannya. Mereka memborong poin.

Skor akhir menjadi bukti tak terbantahkan: 1.810 poin. Jauh meninggalkan Kabupaten Jeneponto (1.545), Wajo (720), dan Takalar (350). Sebuah selisih yang bukan hanya angka, tapi cerminan dominasi.

Di pinggir arena, mata para pelatih dan official tak bisa menyembunyikan haru. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan, ada ketegangan yang akhirnya luruh menjadi kebanggaan.

Pelatih Fahmil Qur’an, Ustazah Misra, menjadi salah satu yang paling merasakan perjalanan itu. Baginya, kemenangan ini bukan sekadar medali emas. Ini tentang proses.

“Alhamdulillah, ini bukan hasil instan. Anak-anak berlatih dengan disiplin, menahan lelah, dan menjaga fokus. Hari ini mereka membuktikan semuanya,” ucapnya dengan mata berbinar.

Bagi ketiga peserta muda itu, panggung MTQ bukan hanya soal kompetisi. Ini tentang membawa nama daerah, tentang membayar kepercayaan, dan tentang membuktikan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.

Medali emas pertama ini pun menjadi lebih dari sekadar prestasi. Ia adalah pemantik semangat bagi kafilah Luwu Timur—bahwa mereka tidak datang untuk sekadar meramaikan, tetapi untuk mengukir sejarah.

Dan mungkin, dari sebuah aula di Maros hari itu, lahir cerita yang akan terus dikenang: tentang tiga anak muda, latihan sunyi, dan kemenangan yang akhirnya bersuara lantang.

(teraskata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini