TERASKATA

Membangun Indonesia

Jelang 1 Abad, Warkop Tertua di Palopo Ini Eksis Sebelum Indonesia Merdeka

admin |
Beginilah suasana di Warkop Tertua di Kota Palopo. (foto : teraskata)

Bak menyusuri ruang dan waktu, berada di warkop tertua kesannya sedikit membawa ke masa lalu. Tak main-main, suasana 100 tahun yang lalu terpotret di dalamnya.

Catatan : Samsudar Syam

Menjadi warkop pertama, Warung Tengah atau Warkop Tengah di tahun 1930 an menjadi pusat konsentrasi manusia.

Pedagang dari luar daerah banyak yang mampir. Sekedar bercerita dan menyeruput kopi.

Pakaiannya pun mewakili style masa lalu, berkemeja, bersarung, dan berpeci hitam.

Di situ, dekat pintu ruko tua, dapurnya berada. Masih menggunakan tanah liat, teko pemanas air diletakkan di atasnya.

Di dalam tungku tanah liat, nyala arang dipertahankan untuk mendidihkan air. Sesekali di kipas untuk meningkatkan suhu panas.

Arang untuk kebutuhan memasak itu selalu tersedia di pagi hari. Produksi arang di kala itu berada di Balandai. Setiap subuh, pengusaha arang datang membawa kebutuhan Warkop Tengah.

Di sekitar dapur, ada penyaring, dan juga gelas dan gelas besi bedekatan dengan tempat penyeduhan kopi.

Lanjut Ke Halaman Berikutnya>>

Tampak depan Warkop Tengah yang berada di Jalan Sawerigading Kota Palopo. (foto : teraskata)

Pelanggan selalu setia menanti racikan kopi You Ki Wa, pemilik Warkop Tengah. Mereka setia duduk di meja bundar dan kursi antik yang dibawa You Ki Wa dari Tiongkok.

Warkop Tengah sendiri terletak di Jalan Sawerigading. Berdekatan dengan Bioskop Apollo. Menempati ruko pertama di Palopo.

Alen, anak mendiang You Ki Wa mengisahkan jika dahulu, deretan ruko di sekitaran Bioskop Apollo masih merupakan bangunan kayu.

Setiap sore, warga dari Penggoli datang berjualan makanan ringan seperti pisang goreng dan kacang rebus. Di tempat itu juga, sore menjadi sangat ramai. Banyak pemuda-pemudi berkerumun, menunggu jadwal pemutaran film di Bioskop Apollo.

Suasana kota tua dahulu hanya terkonsentrasi di wilayah ini. Batas kota sendiri yakni jembatan Amassangan, dan juga jembatan Ratulangi. Di luar itu, suasana pemukiman sepi.

Pada awal berdirinya, tentara NICA Belanda masih membaur di kehidupan masyarakat. Mereka kadang berpatroli menjaga keamanan perkotaan.

Bersama dengan Wakop Tengah, di zaman dulu, kemudian muncul juga beberapa wakop lainnya. Itu seperti Dinasty, Warung Citra, dan Warung Noka.

Lanjut Ke Halaman Berikutnya>>

Deretan ruko tua di Kota Palopo. Tampak warung tengah berada di deretan paling tengah. (foto : teraskata)

Ke empat warung itu juga berjualan kopi dan semasa dengan Warkop Tengah.

Namun, Warkop Tengah masih eksi di lokasi yang ditempatinya sejak berdirinya. Bangunannya pun dipertahankan, hanya ada sedikit yang berubah. Yakni tampak depan warkop tersebut, ketika Indonesia telah merdeka, bupati ketika itu meminta penyeragaman model bangunan.

Di sebut Warkop tengah sendiri lantaran, posisinya berada di ruko paling tengah di tempat itu.

Kini, Warkop Tengah masih eksis walau tak seramai dengan Wakop moderen. Di dalam Warkop, terdapat empat meja bundar yang dikatakan Alen merupakan meja yang di bawah mendiang ayahnya dari Tiongkok dan tentu usia mejanya juga menjelang 1 abad juga. Sayangnya, kursi pasangan dari meja itu sudah rusak.

Dulu tungku tanah kini digantikan dengan kompor dua mata. Suasana 1930 an sudah berbeda setelah melalui lompatan waktu.

Pelanggannya masih setia. Racikan kopinya dipertahankan sejak berdirinya. Untuk teh susu, jenis tehnya pun masih menggunakan merek lama yang dikemas berwarna merah.

Alen menuturkan, jika dia dan saudara-saudarnya tetap mempertahan usaha warisan orang tuanya. Begitu juga dengan racikan kopinya.

Walau zaman terus berubah, mesin kopi mungkin tidak akan digunakannya untuk mempertahankan cita rasa itu.

Menunggu sembilan tahun lagi, Warkop Tengah benar-benar akan berusia 1 abad. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini