TERASKATA

Membangun Indonesia

Menjaga Api di Antara Dua Dunia, Kisah Jurnalis Muda Wahyudi Yunus

Redaktur Teraskata.com
Wahyudi Yunus (Ketua KNPI Kota Palopo)

Di antara riuh kota dan sunyinya ruang redaksi, seorang anak kampung dari Luwu Timur menenun takdirnya—pelan, tapi pasti.

Pagi di Palopo tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika jalanan belum sepenuhnya hidup, ada denyut yang sudah terasa—di warung kopi, di sudut kota, dan di balik jendela ruang kerja sederhana itu.

Di sanalah Wahyudi Yunus memulai harinya.

Dengan secangkir kopi yang kerap dibiarkan mendingin, ia membaca, mencatat, lalu sesekali berhenti. Tatapannya kosong, tapi pikirannya berjalan jauh—menimbang sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang mungkin tak pernah selesai dipikirkan.

Di atas meja kerjanya, dua dunia bertemu.

Dunia pertama adalah jurnalistik—cepat, tajam, dan tak mengenal kompromi. Dunia kedua adalah kepemudaan—penuh idealisme, bergerak dinamis, tetapi kerap rapuh di hadapan realitas.

Wahyudi tidak memilih salah satunya.

Ia berdiri di antara keduanya.

Ia tidak lahir dari gemerlap kota. Tomoni, sebuah wilayah di Kabupaten Luwu Timur, menjadi titik awal kisahnya pada 10 Oktober 1992. Sebuah tempat di mana hidup berjalan lebih pelan, tetapi nilai-nilai tentang kerja keras dan keteguhan tumbuh tanpa banyak kata.

Ia adalah anak dari Yunus Mading—yang menghabiskan sebagian hidupnya sebagai karyawan PTPN—dan Nurwati Dg Lolo, seorang ibu rumah tangga yang menjaga rumah sekaligus harapan.

Masa kecil Wahyudi berjalan seperti kebanyakan anak lain: sekolah, bermain, dan bermimpi. Tidak ada yang tampak luar biasa. Tapi hidup, pelan-pelan, mengajarinya bahwa tidak semua mimpi punya waktu untuk menunggu.

Tahun 1997, keluarganya berpindah ke Wotu. Di tanah itulah ia mulai menapaki pendidikan—dari SDN 123 Tarengge, SMPN 1 Wotu, hingga SMKN 1 Malili.

Tidak ada kisah heroik di fase itu. Hanya perjalanan biasa yang dijalani dengan kesabaran yang tidak biasa.

Perubahan mulai terasa ketika ia tiba di Palopo dan memilih Fakultas Hukum Universitas Andi Djemma sebagai ruang belajarnya.

Di kampus, ia menemukan sesuatu yang selama ini ia cari tanpa sadar: ruang untuk bertanya, ruang untuk melawan, dan ruang untuk tumbuh.

Organisasi menjadi rumah keduanya.

Dari Sekretaris BEM hingga Ketua Umum HMI Komisariat Unanda, Wahyudi belajar bahwa gagasan bukan hanya untuk dipikirkan, tetapi juga diperjuangkan. Ia juga memimpin Himpunan Mahasiswa Luwu Timur (HAM Lutim Batara Guru), menjadikannya wadah konsolidasi bagi mimpi-mimpi tentang tanah kelahirannya.

Bagi Wahyudi, kampung halaman bukan sekadar tempat pulang. Ia adalah alasan untuk terus bergerak.

Namun jalan yang ia pilih berikutnya justru membawa dirinya keluar dari jalur yang lazim ditempuh aktivis kampus.

Ia menjadi wartawan.

Tahun 2012, ia memulai dari bawah—sebagai reporter di Harian Palopo Pos. Tidak ada sorotan. Tidak ada kemewahan. Hanya sepeda motor, buku catatan, dan keberanian untuk bertanya.

Di jalanan, ia menemukan dunia yang berbeda dari ruang kuliah. Dunia yang lebih keras, lebih nyata.

Ia melihat wajah-wajah lelah yang tidak pernah menjadi berita utama. Ia mendengar cerita-cerita yang tidak selalu nyaman untuk ditulis.

Dan di sanalah ia belajar satu hal yang tidak diajarkan di kampus: bahwa kebenaran sering kali bersembunyi di tempat yang tidak ingin dilihat banyak orang.

Hari-harinya dipenuhi tenggat waktu, tekanan redaksi, dan realitas yang tak jarang terasa menyesakkan. Tapi justru di situlah ia ditempa.

Kariernya bergerak cepat. Dari reporter menjadi redaktur. Lalu, setelah meninggalkan Palopo Pos, ia kembali ke dunia yang sama dengan peran lebih besar—Redaktur Pelaksana di Radar Luwu Raya, hingga akhirnya duduk sebagai Pimpinan Redaksi.

Posisi itu tidak hanya menuntut kemampuan menulis, tetapi juga keberanian menentukan arah.

Dan keberanian itu, sekali lagi, ia pilih untuk diuji.

Ia meninggalkan zona nyaman.

Sejak 2019, Wahyudi membangun Teraskata.com, media yang tidak sekadar ia kelola, tetapi ia rawat seperti gagasan yang hidup. Di sana, ia tidak hanya bicara soal berita, tetapi juga tentang suara—suara yang sering kali nyaris tenggelam.

Di tengah kesibukan itu, ia kembali ke kampus. Kali ini bukan sebagai mahasiswa, tetapi sebagai pengajar.

Sebagai Dosen Luar Biasa di Fakultas Hukum Universitas Andi Djemma, ia berdiri di depan kelas, membawa sesuatu yang tidak tertulis di buku: pengalaman.

Ia tidak hanya mengajarkan hukum.

Ia mengajarkan keberanian.

“Ilmu itu penting,” katanya suatu waktu, “tapi keberanian untuk menggunakannya jauh lebih penting.”

Pendidikan formalnya pun terus berjalan. Ia meraih gelar magister di Universitas Muslim Indonesia Makassar, dan kini melanjutkan ke jenjang doktoral—menyatukan dunia intelektual dengan pengalaman lapangan.

Namun panggung yang paling menantang mungkin justru datang dari ruang kepemudaan.

Pada 28 Oktober 2022—di Hari Sumpah Pemuda—ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KNPI Kota Palopo dalam Musda di Gedung Saokotae.

Itu bukan sekadar jabatan.

Itu adalah tanggung jawab di tengah dinamika yang tidak pernah sederhana.

KNPI bukan ruang yang steril. Ia adalah cermin pemuda itu sendiri—penuh semangat, tetapi juga penuh perbedaan. Ada idealisme, tapi juga ada tarik-menarik kepentingan.

Wahyudi tidak datang sebagai orang luar. Ia tumbuh di dalamnya—dari Wakil Sekretaris, Sekretaris, hingga Ketua.

Karena itu, ia tahu bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menggerakkan organisasi, tetapi menjaga kepercayaan.

Di era ketika banyak pemuda lebih memilih ruang digital daripada ruang organisasi, pertanyaan tentang relevansi menjadi nyata.

Dan Wahyudi tidak menjawabnya dengan retorika.

Ia memilih bekerja.

Mendorong kolaborasi. Membuka ruang dialog. Menjadikan KNPI sebagai rumah yang lebih inklusif—bukan sekadar hadir dalam seremoni, tetapi hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Tentu, jalan itu tidak selalu mulus.

Ada perbedaan. Ada kelelahan. Ada hal-hal yang tidak selalu terlihat.

Tapi bagi Wahyudi, semua itu bukan hal baru.

Ia pernah berada di bawah, di tengah, dan kini di atas.

Ia tahu bagaimana rasanya.

Di balik semua peran itu, Wahyudi tetap manusia biasa. Ia punya lelah, punya ragu, dan mungkin juga punya ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.

Namun ada satu hal yang tidak pernah padam dalam dirinya: keyakinan.

Keyakinan bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap layak diperjuangkan.

Keyakinan bahwa pemuda tidak boleh kehilangan arah.

Dan keyakinan bahwa setiap proses—seberat apa pun—akan menemukan maknanya.

Dari Tomoni ke Palopo, dari ruang redaksi ke ruang organisasi, perjalanan Wahyudi Yunus bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tetapi tentang siapa yang tetap berjalan—bahkan ketika jalan terasa sepi.

Dan di sanalah, ia masih berdiri.

Menjaga api itu—agar tidak pernah padam. (*)