TERASKATA

Membangun Indonesia

Hindari Harga BBM Naik, Anggaran MBG dan Koperasi Merah Putih Harus Dialihkan

admin |
Hindari Harga BBM Naik, Anggaran MBG dan Koperasi Merah Putih Harus Dialihkan

JAKARTA – Perang yang masih berlangsung di Timur Tengah berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah Republik Indonesia harus punya langkah antisipatif yang konkret.

Pasalnya, kenaikan harga minyak dipastikan membuat APBN berisiko menahan subsidi energi, khususnya harga BBM bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai kenaikan BBM nantinya dapat menjerumuskan ekonomi Indonesia perlahan-lahan ke jurang resesi.

Inflasi menurutnya bisa tembus 6-8% secara tahunan jika harga BBM naik. Masyarakat menahan daya beli, dan industri mengalami kelesuan permintaan. Hal ini membuat badai PHK terjadi.

“Ujungnya PHK naik tajam di semua sektor termasuk industri manufaktur, dan perdagangan,” ujar Bhima.

Selanjutnya hal itu membuat jumlah kelas menengah turun dari awalnya rentan miskin menjadi berada di garis kemiskinan. Pada ujungnya, resesi ekonomi pun terjadi karena pelemahan daya beli.

“Jumlah kelas menengah yang turun jadi rentan dan miskin naik signifikan, Indonesia bisa masuk resesi ekonomi,” sebut Bhima.

Ia menyarankan, langkah antisipatif yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan mengalihkan anggaran pada program besar untuk menahan kenaikan harga BBM seperti anggaran Makan Bergizi Gratis hingga Koperasi Desa Merah Putih.

Bhima menilai menahan laju inflasi lebih tinggi urgensinya daripada memberikan makanan gratis.

“Menjaga inflasi lebih utama dibanding MBG untuk saat ini karena force majeure,” ujar Bhima.

Kembali ke Fahmy, dia bilang pemerintah memang memiliki pilihan dilematis, antara menjaga daya beli masyarakat atau menahan anggaran untuk program prioritas.

Namun, Fahmy menilai dengan kondisi seperti ini pilihan merelokasi anggaran untuk menahan harga BBM lebih baik diambil pemerintah.

“Disarankan agar refocusing ya, anggaran yang besar, jadi tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan, kenaikan harga BBM di tengah masyarakat berpotensi menaikkan inflasi. Harga-harga kebutuhan pokok yang pada ujungnya akan mengurangi daya beli masyarakat.

”Kalau (harga energi subsidi) dinaikkan ini juga akan bawa dampak inflasi yang mungkin cukup tinggi, kemudian juga daya beli menurun, beban ratusan rakyat kecil semakin berat,” sebut Fahmy Senin (9/3/2026).

kenaikan harga BBM kata dia, sangat berisiko dilakukan menjelang mudik Lebaran. Inflasi secara ganda bisa terjadi bila hal itu dilakukan.

“Cukup riskan juga kalau itu dinaikkan sekarang. Apalagi kenaikannya nanti bersama dengan hari raya. Nah hari raya ini kan mesti terjadi inflasi, maka terjadi double counting inflation,” sebut Fahmy. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini