Hangat di Darul Ulum: Ketika Kapolda Jabar Menyapa Santri dan Menenun Harmoni di Majalengka
TERASKATA.COM, MAJALENGKA – Pagi itu, suasana Pondok Pesantren Darul Ulum PUI Majalengka terasa berbeda. Ratusan pasang mata santri memandang ke satu arah, menanti kedatangan tamu yang tak biasa.
Di halaman pesantren yang sederhana namun penuh khidmat, gema salam dan senyum hangat menyambut rombongan dari Polda Jawa Barat.
Di tengah barisan itu, hadir sosok Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan. Bukan sekadar kunjungan formal, langkahnya pagi itu terasa lebih seperti silaturahmi seorang sahabat lama—menyapa, mendengar, dan merangkul.
Didampingi Kapolres Majalengka, Rita Suwadi, serta jajaran pejabat utama, kehadiran Kapolda disambut langsung oleh Pimpinan Pesantren, Dodi Rubiansyah, bersama para ulama dan ribuan santri yang memenuhi area pesantren.
Pesantren Darul Ulum, Rumah Nilai yang Menjaga Bangsa
Di hadapan para santri, Kapolda tak berbicara dengan bahasa birokrasi. Ia memilih kata-kata yang sederhana, namun sarat makna.
Baginya, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Di sanalah, nilai-nilai kehidupan ditanamkan—tentang kejujuran, tentang toleransi, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh.
“Pesantren adalah tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak,” ucapnya, disambut anggukan para santri.
Di tengah dunia yang terus berubah, pesantren tetap berdiri sebagai penjaga moral. Sebuah ruang di mana ilmu dan adab berjalan beriringan.
Merawat Kebersamaan di Tengah Perbedaan
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ada pesan yang ingin ditegaskan—bahwa keamanan tidak bisa dijaga sendirian.
Di balik seragam cokelat yang dikenakannya, Kapolda menyadari pentingnya peran ulama sebagai penyejuk masyarakat. Dalam banyak hal, suara mereka lebih dekat, lebih didengar, dan lebih dipercaya.
“Sinergi antara Polri dan ulama adalah kunci menjaga kondusivitas,” katanya.
Di tempat seperti Darul Ulum, nilai kebersamaan itu terasa nyata. Para santri datang dari latar belakang berbeda, namun hidup dalam harmoni yang sama. Sebuah miniatur Indonesia yang damai.
Di penghujung acara, suasana berubah menjadi haru. Kapolda memberikan kejutan yang tak terduga—empat tiket umroh untuk pengurus pesantren.
Bukan sekadar hadiah, tetapi bentuk penghargaan atas dedikasi panjang dalam mendidik generasi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Sejenak, tepuk tangan pecah. Beberapa wajah tampak terharu. Di balik kesederhanaan pesantren, ada pengabdian yang sering kali tak terlihat, namun dampaknya begitu besar.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Hari itu, Darul Ulum bukan hanya menjadi tempat pertemuan antara aparat dan ulama. Ia menjadi ruang perjumpaan nilai—antara kekuatan negara dan kekuatan moral.
Silaturahmi itu mungkin berlangsung singkat. Namun pesan yang ditinggalkan terasa panjang: bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Dan di antara lantunan doa para santri, harapan itu terus hidup—tentang Jawa Barat yang damai, tentang Indonesia yang tetap utuh dalam keberagaman. (Mu’min)







Tinggalkan Balasan