TERASKATA

Membangun Indonesia

Curhat Pilu Lansia Cirebon yang Rumahnya Lumat Diterjang Air Bah

admin |

CIREBON – Guratan kesedihan masih tampak jelas di wajah Suwandi (63), warga Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Meski peristiwa kelam itu sudah berlalu setahun lebih, ingatan tentang amukan Sungai Cipager pada 17 Januari 2025 lalu masih terekam kuat di benaknya.

Rabu sore (8/4/2026), pria lanjut usia ini kembali mengenang detik-detik mencekam saat air bah menghancurkan rumah dan harapan hidupnya.

“Saat itu saya sedang tiduran bersama anak remaja saya. Tidak ada firasat sama sekali,” ujar Suwandi memulai ceritanya.

Ketenangan sore itu mendadak pecah oleh suara gemuruh yang asing di telinga. Awalnya, Suwandi dan keluarga tidak menyadari bahwa Sungai Cipager telah melampaui ambang batas.

Kesadaran itu baru muncul saat teriakan histeris warga memecah suasana sekitar pukul 18.30 WIB.

“Warga teriak banjir, banjir, banjir! Saya langsung bangun dan kaget melihat sungai sudah meluap besar. Air sudah setinggi perut orang dewasa,” tuturnya dengan suara bergetar.

Dalam kondisi panik dan terjepit, Suwandi hanya berpikir untuk menyelamatkan nyawa. Tanpa sempat membawa harta benda, ia dan anaknya bergegas keluar rumah dengan memanjat pagar tembok rumah tetangga untuk menghindari terjangan arus.

Dari ketinggian, ia hanya bisa terpaku menyaksikan keganasan Sungai Cipager melumat isi rumahnya. Lemari pakaian, kasur, televisi, hingga pakaian hanyut terbawa arus yang begitu besar.

Puncaknya, ia melihat dengan mata kepala sendiri bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh, ambruk diterjang air.

“Perasaan saya saat itu hancur. Tidak ada satu pun warga yang bisa menyelamatkan harta benda karena air sangat besar,” kenangnya.

Kehancuran fisik rumah memaksa Suwandi harus mengungsi. Lantaran rumahnya sudah tidak layak huni dan berbahaya, ia kini terpaksa menyewa rumah kontrakan demi menyambung hidup.

Ironisnya, meski musibah tersebut telah lama berlalu, bantuan yang diharapkan tak kunjung datang. Suwandi mengaku sudah berupaya mengadu ke pihak desa untuk menanyakan kejelasan bantuan penyenderan (pembangunan tanggul penahan) sungai, namun hingga kini hasilnya nihil.

“Besok harinya setelah kejadian, kami ke balai desa menanyakan bagaimana bantuan penyenderan. Tapi sampai saat ini tidak ada jawaban sama sekali,” keluhnya.

Kini, di tengah ketidakpastian, Suwandi hanya bisa menggantungkan harapan pada pemerintah daerah.

Ia sangat mendambakan adanya normalisasi dan pembangunan senderan permanen di bantaran Sungai Cipager, agar ia bisa kembali membangun puing-puing rumahnya tanpa dihantui rasa takut.

“Harapan saya cuma satu, ingin dilakukan penyenderan dari pemerintah terkait. Saya ingin rumah yang rusak itu bisa ditempati kembali,” pungkasnya. (Mu’min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini