TERASKATA

Membangun Indonesia

Kondisi Terkini Sungai Cipager Plered, Air Mulai Surut Ketegangan Warga Mereda

admin |
Warga di sekitar aliran Sungai Cipager, wilayah Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, masih memantau kenaikan debit air sungai Cipager, Rabu (25/3/2026) pukul 21.13 WIB. --FT:Mu'min/teraskata--

CIREBON – Ketegangan warga di sekitar aliran Sungai Cipager, wilayah Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, mulai mereda. Berdasarkan pantauan Teraskata.com pada Rabu (25/3/2026) pukul 21.13 WIB, debit air yang sempat meningkat dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan atau surut.

Sebelumnya, kenaikan volume air terjadi secara mendadak dan memicu kekhawatiran warga setempat. Dimas, salah seorang warga Desa Panembahan, menyebutkan bahwa perubahan kondisi sungai terjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah waktu salat Isya.

“Tadi belum naik, baru selepas Isya sudah mulai ada kenaikan debit air,” ujar Dimas kepada awak media di lokasi, Rabu malam.

Kecepatan naiknya debit air ini membuat warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai bersiaga. Yogi, warga lainnya yang turun memantau arus sungai, mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa waswasnya. Baginya, peningkatan debit air Sungai Cipager selalu membawa kembali ingatan buruk tentang bencana masa lalu.

“Sekarang air sungai baru naik, barusan. Jujur saya masih trauma dengan peristiwa banjir pada 17 Januari 2025 lalu,” ungkap Yogi dengan nada khawatir.

Sebelumnya diberitakan warga Perumahan Graha Nuansa Dawuan warga waswas dan trauma karena debit air Sungai Cipager meningkat dan mulai meluap ke pemukiman pada Rabu (25/3/2026) malam.

Kekhawatiran muncul saat ketinggian air di permukiman warga sudah mencapai 100 cm. Kepanikan tersebut diperkuat dengan beredarnya rekaman video yang memperlihatkan aliran air Sungai Cipager sudah mulai memasuki badan jalan di area pemukiman warga.

Meski sempat mengancam, warga sedikit bernapas lega setelah volume air terpantau kembali surut perlahan.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga di wilayah tetangga. Mohamad Lutfi, warga Desa Panembahan, Kecamatan Plered mengaku masih dihantui trauma mendalam akibat tragedi banjir besar yang terjadi pada 17 Januari 2025 silam.

Lutfi menceritakan bahwa pola ancaman banjir di wilayahnya sering kali tidak terduga. Sering terjadi di wilayah Tengahtani dan sekitarnya tidak turun hujan, namun kiriman air datang dari wilayah hulu di Kuningan yang sedang diguyur hujan lebat.

“Saya sangat trauma dan khawatir (kejadian serupa terulang),” tutur Lutfi singkat.

Meski dilaporkan mulai surut, hingga berita ini tayang, warga masih terus bersiaga memantau perkembangan debit air sungai, mengingat cuaca ekstrem yang sulit diprediksi di wilayah Cirebon dan sekitarnya. (Mu’min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini