Di Antara Perayaan dan Kehilangan: Jeritan Asep di Hari Jadi Cirebon ke-544
CIREBON – Langit sore di Cirebon tampak biasa saja, Kamis (02/04/2026). Namun di sepanjang Jalan Fatahillah, suasana terasa berbeda. Debu beterbangan, suara kayu dibongkar bercampur dengan riuh kendaraan yang lalu lalang.
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pria berdiri terpaku—menatap sisa-sisa lapak yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.
Namanya Asep Junaedi, 47 tahun. Warga Desa Megu Gede, Kecamatan Weru itu tak kuasa menyembunyikan kesedihan.
Tepat di hari ketika Kabupaten Cirebon merayakan usia ke-544, Asep justru kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.
Lapak sederhana tempat ia menjajakan sarung jok motor kini tinggal kenangan. Tak ada lagi gantungan barang dagangan, tak ada lagi pembeli yang singgah sekadar menawar. Yang tersisa hanya potongan kayu dan rasa cemas yang mengendap di dadanya.
Dengan suara pelan, Asep bercerita tentang hari-harinya sebelum penertiban. Penghasilannya tak pernah pasti—kadang Rp100 ribu, kadang tak membawa pulang apa-apa. Namun, dari situlah ia menghidupi empat anaknya.
Kini, bahkan ketidakpastian itu pun telah hilang.
“Sekarang saya benar-benar bingung,” ucapnya lirih, matanya kosong menatap jalanan yang tak lagi ramah.
Asep sebenarnya paham, lahan yang ia tempati bukan miliknya. Ia tahu itu aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Tapi bagi Asep, persoalannya bukan sekadar soal legalitas. Ini tentang bagaimana bertahan hidup di tengah pilihan yang kian sempit.
Di tengah perayaan, ia hanya punya satu harapan sederhana—agar pemerintah tak sekadar menertibkan, tetapi juga memberi jalan keluar.
“Kalau bisa ditata, kami ikut. Asal kami masih bisa cari makan,” katanya, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan jalan.
Di sisi lain, penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Cirebon memang bukan tanpa dasar.
Aparat menjalankan tugas untuk mengembalikan fungsi fasilitas umum yang selama ini digunakan sebagai tempat berjualan.
Sepanjang jalur Sumber hingga Weru, yang merupakan aset jalan provinsi, penataan dilakukan demi ketertiban. Peringatan telah diberikan, imbauan sudah disampaikan.
Bahkan pendekatan persuasif, kata petugas, terus dikedepankan sebelum tindakan tegas dilakukan.
Namun, di balik bahasa aturan dan regulasi, ada cerita lain yang tak tertulis dalam lembar kebijakan.
Cerita tentang orang-orang seperti Asep—yang hidupnya bergantung pada ruang-ruang kecil di tepi jalan. Tentang anak-anak yang menunggu ayahnya pulang membawa uang belanja. Tentang dapur yang harus tetap mengepul, apa pun keadaannya.
Sore itu, ketika perayaan hari jadi berlangsung meriah di berbagai sudut kota, Jalan Fatahillah menyimpan kisah berbeda.
Tidak ada panggung hiburan, tidak ada tepuk tangan. Hanya ada harap yang menggantung di antara debu dan sisa bongkaran.
Asep tidak sendiri. Di sepanjang jalan itu, ada banyak pedagang lain yang kini berada di persimpangan yang sama—antara menerima keadaan atau berharap ada perubahan.
Hari jadi ke-544 seharusnya menjadi momen refleksi dan kebanggaan. Namun bagi Asep, hari itu akan selalu diingat sebagai hari ketika ia harus memulai lagi dari nol.
Di ujung harinya, ia masih berdiri di tempat yang sama. Menunggu, berharap, dan mencoba percaya—bahwa di balik penertiban, akan ada ruang baru untuk bertahan hidup.
Sebab bagi Asep, dan mungkin banyak lainnya, yang dibutuhkan bukan sekadar aturan yang ditegakkan, tetapi juga tangan yang terulur. (Mu’min)







Tinggalkan Balasan