Opini: Kecerdasan dan Cinta Sebagai Solusi Terakhir Bangsa Indonesia
Oleh: Yizreel Randi Teguh Agunk (Pemuda Asal Seko, Kabupaten Luwu Utara)
Tidak!! Ia!! Tidak!! Dan bukan paradoks apalagi slogan kosong. (alm) B.J habibie memang sudah berkontemplasi (menggali/mendalami) secara serius, baru mengungkapkan ke atas permukaaan untuk dikomsumsi penerusnya agar pikiran dan hatinya sedikit berisi. KECERDASAN tanpa CINTA akan berbahaya. Inilah salah satu motto beliau yang memiliki makna kompleks tergantug dari sudut mana kita memaknainya.
Motto ini aku adopsi dan pinjam untuk melihat dan membaca fenomena atau persoalan mendasar kita sebagai bangsa beberapa dekade terakhir yang sampai hari ini kita liat tumbuh subur. Mengapa kita tidak bergerak maju? Mengapa isu ideologi begitu seksinya menjadi makanan pokok untuk publik? Mengapa sintimental di atas dan bawah masih sangat tajam? Mengapa kita menjadi bangsa yang munafik? Dan begitu banyak mengapa yang lain.
Problematika ini harus kita akhiri segera. Ini sangat berbahaya. Jika kita biarkan bang “Denny S” Katakan pola ini akan mengakar dan menjadi kekuatan politik baru yang dengan gerak perlahan dan sistematis akan mengoyok-oyok dan mengancam burung garuda yang ingin terbang tinggi.
Nah? Apa solusi untuk menyudahi ketakpastian ini? Secara garis besar saya coba membaginya menjdi dua bagian jawabn dan teori yaitu metode gencatan senjata (fasisme) dan metode 2C (cerdas dan cinta) ala Habibìe.
Metode pertama ini pernah di populerkan Adolf Hitler di abad pertengahan setelah PD 1, kita bisa melihat ekspansi dan kejayaan jerman kalah itu, meskipun oleh beberapa indikator kekuasaan otoriter itu tak berlangsung lama. Metode ini dengan kekuatan indonesia hari in saya yakin bisa memaksakan dan membersihkan “kotorannya” sehingga secara vertikal dan horizontal indonesia akan menjadi tunggal. Tapi melihat kuatnya hukum internasional (HAM), menguatnya iklim demokrasi, finalnya falsafah kita sebagai bangsa serta variabel- variabel lainnya. Teori ini sepertinya tak relevan lagi dengan konteks kekinian..
Lalu bagaimana dengan teori kedua yang sy singkat dengan 2C.
Secara sederhana teori ini berelaborasi dengan dua tumpuan kekuatannya yaitu kecerdasan dan cinta.. cerdas berarti mendalami soal soal dengan pendekatan rasional, akademik, dan tanpa embel-embel politik pragmatis. Sehingga solusi yang akan hadir adalah solusi matang yang ketika di tembakkan tepat sasaran dan tidak menimbulkan luka-luka baru. Lalu kekuatan kedua adalah Cinta! Apa itu? Menurut shceler, cinta adalah kekuatan yang menggerakan individu melampaui keterbatasannya (unsur transedensi) di tandai dengan sikap rela berkorban, kesetian, kerendahan hati, penerimaan, kasih sayang, dan seterusnya.
Nah baik!! Dari semua sikap cerewet dan embel-embelku di atas, apa selanjutnya??? Angkat kedua tanganmu dan nyanyikan lagu yang kini viral “entah apa yang merasukimu bapak presiden”..Hehe intermezo. Selanjutnya adalah ketika metode pertama ku anggap patah dan gugur dengan sendirinya. Maka tersisa teori kedua untuk kita kaji dan benturkan dengan persoalan dan dinamika bangsa dewasa ini?
Ayo teman-teman kita jalan-jalan menelisik tapak tilas dari beberapa kebijakan pemerintah yang lahir dewasa ini dalam merespon stimulus dan dinamika kebangsaan (PAPUA, GAM, GARIS KERAS, DLL) maka subjektifku menyimpulkan pemerintah menjawab soal itu dengan ketidakkreatifan, reaksioner, dan cenderung tak lepas dari politik konspirasi.
Pemerintah sudah terlalu jauh keluar dari salah satu filosofinya yakni sbgai problem solver, kini pemerintah berbalik arah menjadi “the new trouble maker”.
Meskipun demikian kita masih sama-sama sepakat bahwa persoalan bangsa bukan hanya menjadi PR bagi pemerinth secra sndri. Tetapi menjadi tugas kita secara kolektif (di atas/pemerintah dan di bawah/masyarakat). Entitas di bawah ini yang kadang juga bermasalah dan terkadang berkontirbusi signifikan terhadap ketimpangan ini..Ayo!!! Sudahilah debat itu !! Barang itu sperti lingkaran abu-abu yang tak akan pernah menemui ujungnya !! Berhentilah memiliki sikap saling curiga, rasisme, provokator, diskriminasi terhadap saudara sebangsamu, bersikaplah lebih “telanjang” jangan kau bicara A di muka umum tapi di belakang layar kau mendukung ideologi B..Jangan kemudian sampai benar apa yang bung Fahri Hamzah katakan kita ini lemah pemikiran besarnya tentang sebuah bangsa.
Jika sikap dan pola (pemerintah dan masyarakat) ini terus berpelihara seperti ini maka dipastikan rusak kita sebagai manusia dan bangsa. Inilah masa” getting itu. Sudah waktunya kita semua berkonsiliasi dan berefleksi dengn hati yang putih dan iklhas..caranya bagaimana??? Jangan malu.. Pinjam dan milikilah jalan pikiran bapak bangsa kita (alm) B.J Habibie tentang teori KECERDASAN dan CINTA. Saya masih optimis 100% indonesia tidak kekurangan orang baik, sisahnya mau tidak kita menjadi sulu dan tauladan seperti yang sudah di mulai dan dicontohkn para founding fathers kita termasuk yang di panggil Najwa Shihab dengan sebutan “Eyang Habibie”.
Sekarang, pesawat buatan eyang sudah siap lepas landas. Eyang memanggilmu !!! Ayo..Ayo..Semua anak bangsa masuk!! dengan kebersamaan dan rasa memiliki yang kuat kita terbangkan pesawat “Indonesia baru ini” sampai menyentuh bibir langit yang indah.
Penutup. “B.J Habibie adalah simbol kebesaran pikiran dan cinta, itulah sebabnya ia ada dan pergi untuk Indonesia”. (*)







Tinggalkan Balasan