TERASKATA

Membangun Indonesia

Salut…Demi Akses Buat Beli Beras, Bapak Ini Perbaiki Sendiri Jembatan Rusak di Luwu

admin |
Tangkapan layar video seorang warga Desa Malela, Kec Suli, Kab Luwu, Sulsel, memperbaiki jembatan yang rusak diterjang banjir.

TERASKATA.COM, LUWU – One man show. Begitulah yang dilakukan seorang bapak di Suli, Kabupaten Luwu yang harus memperbaiki sendiri jembatan yang rusak demi akses warga.

Video seorang bapak perbaiki sendiri jembatan itu diunggah anaknya di facebook dengan nama akun Rustifatih, Senin (30/8/2021).

Seperti diketahui, hujan deras beberapa hari terakhir tidak hanya menyebabkan banjir, tapi juga merusak fasilitas umum di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Salah satunya, jembatan di Dusun Tirowali, Desa Malela, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu.

Sebelum mengunggah video bapaknya memperbaiki jembatan, Rustifatih lebih dulu mengunggah video kerusakan jembatan penghubung Desa Malela ke Palendongan itu. Rusak karena diterjang banjir.

Namun hingga dua hari tak kunjung ada perbaikan, sehingga bapaknya berinisiatif memperbaiki sendiri jembatan tersebut.

“Dikkana bapakku. Berusaha napannai bambu karna kukua taemo kubisa lendu lmnjo ngalli barra,” tulis Rusti dengan Bahasa Luwu dalam keterangan videonya.

Kurang lebih artinya: Kasihan bapakku. Berusaha memasang bambu karena saya bilang sudah tidak bisa menyeberang untuk beli beras.

Dalam video itu, tampak Bapak Rusti, mengikat dua bambu untuk jadi titian bagi warga yang hendak menyeberangi sungai di Desa Malela itu.

Hingga berita ini diracik redaksi Teraskata.com, video itu sudah dibagikan 57 kali dan dikomentari lebih dari 100 netizen.

Rustifatih berharap pemerintah turun tangan membenahi jembatan tersebut agar lebih kokoh dan bisa dilintasi lagi warga.

“Sebenarnya ada jalan alternatif, tapi jauh dan kalau musim hujan begini pasti sangat susah dilalui kendaraan,” kata Rusti kepada Teraskata.com, Senin malam.

Rusti mengaku setelah diperbaiki oleh bapaknya, jembatan itu untuk sementara sudah bisa dilalui. Namun kondisinya masih sangat mengkhawatirkan karena hanya mengandalkan dua batang bambu.

“Yang penting sudah bisa digunakan dulu karena kami harus ke kampung sebelah untuk belanja keperluan sehari-hari,” tuturnya.(*/int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini